Ngopi Cerdas di Kafe Buku John Dijkstra
- VoxPop.co.id/Dwi Royanto
Seiring perkembangannya, gedung John Dijkstra dimiliki Konferensi Wali Gereja Indonesia, lalu diberikan kepada Keuskupan Agung Semarang tahun 1955. Sejak saat itu bangunan dikelola oleh Keuskupan Agung sebagai kantor sosial ekonomi.
"Detailnya sebagai kantor pusat gerakan sosial ekonomi Pancasila. Rumah diskusi dan rumah pertemuan. Sampai saat ini masih dipertahankan untuk menggerakkan roh sosial ekonomi melalui gerakan-gerakan riil," katanya.
Ngopi mencerdaskan
Fungsi Kafe John Dijkstra sebagai penggerak sosial ekonomi masih terjaga. Bentuk gerakan itu karena fungsi kafe yang lebih banyak menjadi tempat berkumpul atau mangkal lintas komunitas. Mulai komunitas fotografi, seni rupa, komunitas lingkungan, pelajar dan para aktivis mahasiswa.
"Memang lebih banyak yang datang komunitas dan gerakan buruh, tani, dan nelayan. Acara beragam, tapi lebih banyak diskusi perjuangan," kata Pristiawan (38 tahun), pengelola Kafe John Dijkstra.
Salah satu yang membedakan Dijkstra Library Cafe dengan kafe-kafe lain di kompleks Kota Lama adalah konsep perpustakaan bacanya yang menyatu dengan kafe. Unsur kolaborasi antara bisnis dan sosial kental terasa jika berkunjung ke kafe itu.
"Kenapa konsep kafe perpustakaan, karena tujuan kita memang untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak muda sesuai perjuangan awal Romo John Dijkstra. Jadi, ngopi di kafe kami bisa mencerdaskan," ujar Yulianti.
Sekira 80 persen koleksi buku Dijkstra tentang sosial-humaniora dan selebihnya seputar bisnis. Buku-buku lama kebanyakan bertema sosial berbahasa Jerman, Inggris serta Belanda.
"Kita juga masih simpan buku soal gerakan ekonomi Pancasila ikatan buruh Pancasila tinggalan Romo John Dijkstra. Itu yang bisa kita selamatkan, ada ratusan, terbitan tertua 1980-an," katanya.
Salah satu koleksi buku yang kuno dan langka adalah berbahasa Belanda dan Inggris berjudul Liddell Harts History of the Second Word War (buku tentang sosial) serta General's Life an Autobigraphy by General the Army Omar N. Brandley and Clay Blair.
"Buku-buku itu yang tertarik justru para bule Belanda atau Inggris. Katanya di negaranya kini langka," ujarnya.
Kopi dan tempe
Meski kafe berkonsep pendidikan, desain ruangan disesuaikan kalangan muda. Konsep gedung masih terus dijaga, tapi juga konsep meja kursi kafe juga klasik. Dinding-dinding kafe juga dihiasi lukisan-lukisan kulit kayu yang merupakan karya seni terkenal dari Sentani asal Papua. Bahkan produk kerajinan tangan lainnya juga mudah ditemui di sini.
