Ngopi Cerdas di Kafe Buku John Dijkstra
- VoxPop.co.id/Dwi Royanto
"Gedung tiga lantai kita selalu aktif, kalau awalnya berkutat di karangan gereja tapi sekarang jadi kafe zona budaya tapi tetap gaul," katanya.
![]()
Fasilitas kafe buku John Dijkstra dibangun di awal 2017. Kafe itu juga menyediakan tempat untuk penyelenggaraan acara, seperti pelatihan atau pertemuan bagi instansi perkantoran, pemerintahan hingga pelajar dan mahasiswa.
Menu makanan dan minuman di kafe ini pun cukup variatif. Seperti kopi khas petani lokal, makanan ringan ala desa, yakni singkong frementasi yang gurih dan empuk. Ada juga kudapan khas bernama aromatik tempe, yakni makanan tempe ditumis dengan macam-macam rempah. Pengunjung dijamin betah berlama-lama di kafe gedung sejarah itu.
Khusus menu kopi, ada dua varian, yakni kopi jenis robusta dan arabika. Kopi itu langsung diambil dari masyarakat pendampingan komunitas yang kerap berkumpul di kafe. Karena kafe John Dijkstra menjadi tempat berkumpul aktivis tani, nelayan dan buruh.
"Kopi robusta, Seloprojo lereng Telomoyo, Ngablak, Kabupaten Magelang. Kalau arabika kita ambil di petani asli Wirogomo, daerah di atas Gunung Kelir, Kabupaten Semarang," katanya.
Kafe itu dikunjungi rata-rata 50 orang per hari. Kafe dibuka mulai pukul sebelas siang sampai sebelas malam. Paling ramai pengunjung dan komunitas datang jika akhir pekan. Apalagi kafe itu juga menyiapkan housetel atau tempat penginapan bagi backpacker dengan tarif Rp30 ribu per malam. Tempatnya di lantai tiga berkapasitas 200 orang.
