Survei: Hingga 56 Persen Kasus Ekploitasi Seksual Anak Tak Terungkap
- Istimewa/Supriadi Maud/VoxPop.
VoxPop Lifestyle – Dari seluruh anak Indonesia yang mengalami berbagai bentuk eksploitasi seksual dan perlakuan yang salah ataupun pengalaman tidak diinginkan lainnya di dunia maya, antara 17 dan 56 persen di antaranya tidak melaporkan kejadian tersebut. Hal ini dinyatakan di dalam laporan terbaru dari UNICEF, Interpol, dan ECPAT, yang didanai oleh Global Partnership to End Violence against Children.
Laporan berjudul Disrupting Harm in Indonesia, terbit menjelang Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, menyajikan bukti-bukti tentang eksploitasi seksual dan perlakuan yang salah terhadap anak di dunia maya.
Data didapatkan dari survei rumah tangga terhadap 995 anak dan pengasuh, survei terhadap tenaga layanan di lapangan, dan wawancara dengan pihak berwenang dan penyedia layanan dari kalangan pemerintah. Penelitian berlangsung antara bulan November 2020 dan Februari 2021 dengan fokus pada anak usia 12-17 tahun.
Temuan laporan menyatakan, anak pada kategori usia tersebut adalah pengguna internet yang sangat aktif dengan 95 persen di antaranya mengakses internet minimal dua kali sehari. Dua persennya, atau sekitar 500.000 anak di Indonesia, menyatakan pernah menjadi korban eksploitasi seksual dan perlakuan yang salah di dunia maya dalam setahun terakhir.
Menurut laporan, angka ini sangat mungkin bukan angka yang sebenarnya mengingat topik ini amat sensitif dan traumatis bagi anak. Selain itu, laporan ini hanya mencakup insiden dalam satu tahun terakhir. Dengan demikian, angka sesungguhnya dari anak yang pernah mengalami kejadian serupa di sepanjang hidupnya adalah jauh lebih tinggi.
Jenis kejadian yang disebutkan anak di dalam survei antara lain adalah pemerasan untuk melibatkan anak dalam tindakan seksual, pengambilan gambar yang bersifat seksual dan penyebarannya tanpa seizin anak, dan pemaksaan anak untuk melakukan tindakan seksual dengan iming-iming uang ataupun hadiah.
Ilustrasi eksploitasi seksual anak (picture-alliance/ZB)
- dw
Eksploitasi dan perlakuan yang salah terhadap anak utamanya terjadi di platform media sosial, seperti WhatsApp, Facebook, dan Facebook Messenger. Namun, hingga 56 persen anak tidak pernah menceritakan insiden yang dialami kepada siapa pun.
Anak yang melapor lebih memilih bercerita kepada teman atau saudara dibandingkan orang tua atau orang dewasa lain. Dalam survei, hanya terdapat satu anak yang melaporkan kejadian yang dialami kepada polisi, yaitu insiden mendapatkan konten seksual yang tidak diinginkan, dan satu anak lain menghubungi nomor kontak layanan setelah diimingi-imingi uang atau hadiah jika bersedia memberikan konten seksual.
