Ini Kata Psikolog Soal Pengakuan Aurelie Moeremans Terkait Child Grooming

Aurelie Moeremans
Sumber :
  • Instagram/aurelie

VoxPop – Pengakuan Aurelie Moeremans tentang pengalaman child grooming yang ia tuangkan dalam buku memoar Broken Strings terus menuai perhatian publik. Tak hanya dari masyarakat dan figur publik, kisah tersebut juga mendapat sorotan dari kalangan profesional, salah satunya psikolog Joice Manurung yang mencoba membaca kondisi psikologis Aurelie dari sudut pandang keilmuan.

img_title Aurelie Moeremans Geram YTR Masih Dicari Kesalahannya Meski Jadi Korban, Singgung soal Hal Ini

Dalam sebuah acara televisi yang dipandu Irfan Hakim, Joice Manurung mengulas bagaimana pengalaman masa lalu yang berat dapat membentuk ketahanan emosional seseorang. Ia menilai, keberanian Aurelie untuk berbicara terbuka menunjukkan adanya daya tahan psikologis yang tidak semua orang miliki. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

Aurelie Moeremans

Photo :
  • IG @aurelie
img_title Aurelie Moeremans Soroti Kasus YTR, Ungkap Pola Toxic Relationship Mirip Pengalaman Pribadi

“Satu sisi yang saya lihat dari Aurelie, beliau punya daya tahan emosi yang relatif kuat ya. Jadi barangkali bentukan pengalaman hidupnya tuh cukup bergejolak cukup tangguh sehingga dia terbiasa dengan tekanan, terbiasa dengan situasi yang membuat dia tidak merasa nyaman, kemungkinan seperti itu,” jelas Joice Manurung yang dikutip dari tayangan YouTube pada Senin, 19 Januari 2026. 

Selain itu, Joice juga menilai bahwa pembawaan Aurelie yang tenang saat menceritakan pengalamannya sebagai mekanisme pertahanan diri yang sering kali dilakukan korban untuk bisa bertahan.

img_title Broken Strings Difilmkan, Penasaran Siapa yang Bakal Jadi Bobby Si Sosok Misterius?

“Namun, sisi lain saya pikir ini upaya dia juga untuk menenangkan dirinya. Jadi banyak orang memilih cara merasionalisasi dan menunjukkan sesuatu yang sifatnya tuh ah gapapa kok saya bisa lalui kok. Satu sisi itu baik karena itu membantu dia bisa melewati, dia menyelesaikan strenya tekanannya. Namun, satu sisi itu kan menimbun sebenarnya,” jelasnya lagi. 

Lebih jauh, Joice menjelaskan bahwa dalam banyak kasus child grooming, relasi yang terjadi bukanlah cinta dalam makna sehat, melainkan bentuk ketergantungan emosional. Ketergantungan ini sering muncul ketika kebutuhan afeksi anak tidak terpenuhi secara optimal dari lingkungan terdekat.

“Sebenarnya ini bukan bentuk cinta dalam arti yang sebenarnya ya, tapi bentuk ketergantungan emosi. Jadi kalo biasanya child grooming itu dialami oleh anak-anak yang secara afeksinya memang kurang perhatian atau bentuk attachment atau kedekatan emosional dengan figur terdekat ayah ibu saudaramisalnya itu kurang,” tuturnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut