Dikritik Soal Gerakan Lingkungan yang Gak Berdampak, Tasya Kamila: Jujur Aku Sedih...

Tasya Kamila
Sumber :
  • VoxPop.co/id/Nuvola Gloria

Jakarta, VoxPop – Nama Tasya Kamila kembali menjadi sorotan publik setelah unggahannya mengenai laporan kontribusi sebagai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memicu perdebatan di media sosial. 

img_title Pramono: Beasiswa KJMU Diperluas untuk S2 dan S3

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap transparansi dan dampak para penerima beasiswa negara, pernyataan Tasya justru menuai respons beragam dari warganet. Scroll lebih lanjut yuk!

Isu mengenai kontribusi alumni LPDP memang sedang hangat diperbincangkan, terutama setelah komentar salah satu alumni lain, Dwi Sasetyaningtyas, viral dan memantik diskusi luas. 

img_title Tepati Janji Cak Imin, PKB Realisasikan Beasiswa untuk Sekolah Alam Arus Kualan

Dalam situasi tersebut, Tasya melalui akun Instagram pribadinya memaparkan sejumlah langkah nyata yang telah ia lakukan sepulang dari studi magister di Columbia University, Amerika Serikat.

Alih-alih memperoleh dukungan penuh, ibu dua anak itu justru menerima kritik tajam. Sejumlah warganet mempertanyakan sejauh mana dampak gerakan lingkungan yang ia inisiasi sebanding dengan dana pendidikan yang telah diberikan negara.

img_title Kemendikdasmen Siapkan Beasiswa S1 Bagi 150 Ribu Guru pada 2026

Tasya pun tak menampik bahwa komentar tersebut memengaruhi perasaannya. Ia secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya ketika kerja-kerja sosial yang telah dirintisnya dinilai tak memberikan perubahan berarti.

"Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan," kata Tasya Kamila, dikutip Kamis 26 Februari 2026.

Melalui yayasan Green Movement Indonesia yang ia gagas, Tasya menyebut dirinya berupaya menerjemahkan ilmu kebijakan publik ke dalam aksi nyata. Ia juga menegaskan bahwa bidang studi yang diambilnya berkaitan erat dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau SDGs yang kala itu menjadi fokus nasional.

"Kebetulan di tahun 2016, isu SDGs menjadi salah satu prioritas sehingga jurusan kuliahku menjadi salah satu yang diprioritaskan LPDP," ungkapnya.

Menurut Tasya, gerakan sosial di sektor lingkungan memang terbuka untuk siapa saja. Namun, ia menilai tetap diperlukan sosok yang bersedia menjadi penggerak sekaligus penghubung antara masyarakat dan pembuat kebijakan.

"Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya," tulis Tasya Kamila.

"Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud," imbuhnya.

Lebih lanjut, Tasya menegaskan bahwa kiprahnya tidak dilakukan seorang diri. Ia menyebut adanya kolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, organisasi non-pemerintah, sekolah, komunitas PKK, hingga program CSR perusahaan guna memperluas jangkauan dampak.

"Dan sebaliknya, dari gerakan akar rumput soal lingkungan yang dibuat ngetrend juga mendorong kebijakan publik pro lingkungan, mendorong demand untuk produk-produk dan praktik bisnis yang pro lingkungan," jelasnya.

"Aku enggak bekerja sendirian. Aku berkolaborasi dengan Kementerian dan Lembaga, NGO, sekolah-sekolah, ibu-ibu PKK, termasuk juga CSR perusahaan, untuk membangun dampak yang lebih besar," jelas Tasya Kamila.

Salah satu komentar yang mencuri perhatian datang dari akun @houseofvya yang mempertanyakan besaran dampak kontribusi tersebut dibandingkan dengan dana beasiswa yang digelontorkan negara.

"Mba kok impact-nya enggak sebesar dana yang dikeluarkan yah? Ini lebih mirip prokeran BEM atau kantor, program CSR perusahaan, atau kegiatan ibu-ibu di lingkungan," tulis netizen itu.

Menanggapi kritik tersebut, istri Randi Bachtiar itu memilih menjawab secara terbuka dan tenang. Ia mengawali responsnya dengan nada rendah hati.

"Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan. Tapi aku sadar memang aku enggak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang," balas Tasya Kamila.

Perdebatan ini pun kembali membuka ruang diskusi publik mengenai ukuran “dampak” seorang penerima beasiswa negara. Di satu sisi, masyarakat menuntut kontribusi nyata dan terukur. Di sisi lain, upaya sosial yang bersifat jangka panjang kerap membutuhkan proses berkelanjutan sebelum hasilnya terlihat secara signifikan.

Ilustrasi Siswa SMA

Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan, Hanta Yudha Beri Beasiswa 516 Siswa dari Berbagai Daerah se-Indonesia

Berbagai program beasiswa terus bermunculan untuk memperluas akses pendidikan. Banyak juga beasiswa penuh untuk siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

img_title
VoxPop.co.id
30 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut