Pesan Penting dari Dokter Gia Buat Para Nakes yang Komen Jahat di Kasus Yurizal
- Tangkapan Layar
VoxPop – Kasus Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS Kesehatan yang sempat mengungkap pengalaman menunggu kamar rawat inap selama berjam-jam sebelum akhirnya meninggal dunia, masih menjadi perhatian publik. Sorotan tidak hanya tertuju pada persoalan antrean layanan kesehatan, tetapi juga pada etika komunikasi sejumlah tenaga kesehatan di media sosial.
Di tengah polemik tersebut, dokter umum sekaligus kreator edukasi kesehatan, dr. Gia Pratama Putra, menyampaikan pesan yang menyinggung pentingnya menjaga profesionalisme dan empati bagi setiap tenaga kesehatan.
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, dr. Gia mengajak para dokter dan tenaga kesehatan untuk kembali merefleksikan makna profesi yang mereka jalani. Menurutnya, kemampuan dan pengetahuan medis bukan satu-satunya hal yang harus dimiliki seorang tenaga kesehatan.
Sikap profesional, kemampuan mengendalikan emosi, serta empati terhadap kondisi pasien juga menjadi bagian penting dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.
Dr. Gia menilai pakaian yang dikenakan tenaga kesehatan seharusnya menjadi pengingat atas tanggung jawab besar yang melekat pada profesi tersebut. Jas putih dokter maupun seragam rumah sakit bukan sekadar atribut pekerjaan, melainkan simbol amanah untuk tetap memberikan pelayanan dengan sikap yang tepat.
"Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi," tulis dr. Gia, dikutip Rabu 5 Agustus 2026.
Ia menyadari bahwa bekerja sebagai tenaga kesehatan bukanlah pekerjaan yang mudah. Dokter maupun nakes dapat menghadapi jadwal padat, tekanan pekerjaan, kelelahan fisik, hingga situasi yang memancing emosi.
Namun, seluruh kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengesampingkan profesionalisme ketika berhadapan dengan pasien maupun masyarakat.
"Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional," jelasnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan setelah muncul polemik mengenai komentar sejumlah akun yang diduga berasal dari tenaga kesehatan terhadap keluhan Yurizal. Pernyataan bernada sinis yang beredar di media sosial dinilai sebagian masyarakat tidak menunjukkan empati terhadap seseorang yang tengah berada dalam kondisi membutuhkan pelayanan medis.
