Sindiran Menohok Denny Sumargo Buat Para Nakes yang Komentar Jahat di Kasus Yurizal
- Tangkapan Layar
VoxPop – Denny Sumargo turut menyoroti polemik yang muncul setelah meninggalnya Yurizal, pasien BPJS yang sebelumnya viral karena mengeluhkan lamanya waktu menunggu ruang rawat inap. Sorotan Denny tertuju pada sejumlah komentar dari tenaga kesehatan yang dinilai menyudutkan almarhum saat keluhannya ramai diperbincangkan di media sosial.
Kasus Yurizal kembali menjadi perhatian publik setelah kabar meninggalnya pria tersebut pada 31 Juli 2026. Sebelum wafat, Yurizal sempat membagikan pengalaman mengenai proses mendapatkan ruang rawat inap setelah menjalani penanganan awal di instalasi gawat darurat (IGD).
Keluhannya mengenai antrean hingga sekitar delapan jam untuk memperoleh kamar perawatan kemudian viral. Peristiwa tersebut memunculkan beragam reaksi dari masyarakat, termasuk komentar dari sejumlah tenaga kesehatan yang justru menuai kecaman.
Situasi tersebut kemudian ikut mendapat perhatian Denny Sumargo. Melalui akun Threads pribadinya, Denny mengunggah tangkapan layar komentar sejumlah akun yang sebelumnya memberikan respons negatif terhadap Yurizal.
Dalam unggahannya, Denny Sumargo hanya menuliskan sindiran singkat, tetapi cukup menggambarkan keprihatinannya terhadap munculnya komentar-komentar yang dianggap tidak menunjukkan empati kepada seseorang yang sedang menghadapi persoalan kesehatan.
"Menghujat menghujat menghujat.." tulis Denny Sumargo, dikutip Rabu 5 Agustus 2026.
Unggahan tersebut juga memperlihatkan sejumlah akun yang komentarnya kembali menjadi sorotan setelah kabar Yurizal meninggal dunia.
Salah satu tenaga kesehatan yang disorot adalah dr. Benny C. Sihombing, yang diketahui bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng. Sebelumnya, ia memberikan tanggapan terhadap keluhan Yurizal mengenai keterbatasan ruang rawat inap.
"Kalo full, mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai? Gak ada hubungannya sama BPJS atau enggak BPJS. Yang make banyak, otomatis yang dirawat juga banyak, enggak cuma kamu sendiri," kata dr. Benny.
Komentar tersebut kembali ramai diperbincangkan karena terdapat kalimat lain yang dianggap warganet jauh lebih sensitif.
"Kalau mau pindah cepat, noh ruangan jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah begini," tulis komentar itu.
Setelah komentar tersebut kembali viral pascawafatnya Yurizal, dr. Benny akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengakui pernyataannya tidak pantas dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum.
Ia juga menyatakan kesediaannya untuk menjalani proses serta menerima konsekuensi apabila terdapat sanksi dari rumah sakit, organisasi profesi, maupun Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).
Komentar Dokter Elda Juga Disorot
Selain dr. Benny, Denny Sumargo turut menampilkan komentar dari dr. Elda Putri Rahardini. Sosok tersebut juga menjadi perhatian publik setelah komentarnya terhadap Yurizal dianggap bernada merendahkan.
"Foto profilnya kayak orang punya, tapi aslinya tidak punya kah? Tidak punya beberapa sel otak," katanya.
Komentar itu kemudian memicu kritik luas di media sosial. Publik mempertanyakan bagaimana seorang tenaga kesehatan semestinya merespons keluhan pasien, khususnya ketika keluhan tersebut berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang sedang dialaminya.
Padahal, dr. Elda memiliki latar belakang akademik yang cukup menonjol. Ia diketahui pernah mendapatkan penghargaan Best Systematic Review dalam The 20th Congress of Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM), yang digelar bersamaan dengan The 8th Congress and Scientific Meeting of Indonesia Society of Psychosomatic Medicine pada 2025.
Ia juga diketahui merupakan penerima beasiswa LPDP untuk menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam.
Namun, pencapaian tersebut tidak terlepas dari sorotan publik setelah komentarnya kepada Yurizal tersebar luas. Perdebatan yang muncul kemudian tidak hanya berkaitan dengan isi komentar, tetapi juga menyentuh persoalan etika komunikasi tenaga kesehatan di ruang publik.
Pada Selasa, 4 Agustus 2026, dr. Elda menyampaikan permintaan maaf melalui surat pernyataan terbuka. Ia mengakui bahwa komentarnya tidak pantas dan tidak etis serta menilai pernyataan tersebut telah bertentangan dengan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung dalam profesi kedokteran.
Akun media sosial dr. Elda juga disebut telah dinonaktifkan setelah polemik tersebut berkembang.
