Ini Hal Berbeda yang Ada di Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dari Film Horor Lainnya
- Instagram/kuasagelap.id
VoxPop – Film horor dengan kisah eksorsisme selalu memiliki daya tarik tersendiri karena tidak hanya mengandalkan adegan menakutkan, tetapi juga menghadirkan konflik antara manusia, keyakinan, dan kekuatan yang sulit dijelaskan. Cerita semacam ini biasanya membawa penonton mengikuti perjuangan tokoh utama ketika berhadapan dengan teror yang berkaitan dengan masa lalu.
Salah satu film Indonesia yang mengangkat tema tersebut adalah Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Sekuel dari Kuasa Gelap (2024) ini kembali membawa karakter Romo Rendra dan Romo Thomas dalam sebuah kisah eksorsisme dengan konflik yang lebih personal.
Film ini kembali mempertemukan Lukman Sardi dan Jerome Kurnia sebagai Romo Rendra dan Romo Thomas. Keduanya sebelumnya telah diperkenalkan sebagai dua tokoh yang berhadapan langsung dengan fenomena eksorsisme.
Pada cerita terbaru, persoalan tidak hanya berkaitan dengan upaya mengusir kekuatan jahat. Masa lalu Romo Rendra juga menjadi bagian penting dalam perkembangan cerita.
Perjanjian Darah diketahui dirancang dengan skala cerita yang lebih besar, baik dari segi dunia cerita, lokasi, maupun ancaman yang dihadapi para karakter. Penggunaan format imax juga menjadi bentuk pengakuan terhadap skala produksi dan kualitas film tersebut, mengingat format itu memiliki standar internasional dan tidak semua film dapat ditayangkan di dalamnya.
Diceritakan juga bahwa kisah film ini tidak hanya berfokus pada rasa takut. Film ini juga mengangkat persoalan antargenerasi, terutama mengenai pilihan yang dibuat oleh satu generasi dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam sekuel ini adalah penggalian karakter Romo Rendra. Latar belakang tokoh tersebut disebut telah dirancang sejak film pertama.
Salah satu pemerannya, Lukman Sardi mengatakan bahwa film kedua akan menggali lebih dalam sisi manusiawi Romo Rendra, terutama saat karakter tersebut harus menghadapi kekuatan jahat berupa iblis purba yang disebut Rephaim. Ia juga menilai penggunaan format imax dapat membuat perjalanan eksorsisme dalam film terasa lebih imersif dan emosional bagi penonton.
Konflik tersebut membuat perjalanan eksorsisme tidak hanya menjadi persoalan antara seorang pemuka agama dan kekuatan jahat. Pergulatan batin serta kelemahan manusia juga menjadi bagian dari cerita.
