Dokter Tirta Soroti Sistem BPJS Usai Kasus Yurizal Viral, Sebut Harus Ada Perbaikan
- Instagram/@dr.tirta
Dokter Tirta kemudian mengingatkan bahwa rasa lelah akibat pekerjaan bukan hanya dialami oleh tenaga kesehatan.
"Semua orang burn out ya. Tukang becak burn out, kuli bangunan burn out, porter Rinjani burn out,” ujarnya lagi.
Baginya, setiap orang tetap memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan tindakan, termasuk ketika menggunakan media sosial.
"Ya, kamu bisa mengontrol jarimu. Kalau kamu stress di thread, ya kamu jangan main thread,” tegas Dokter Tirta.
Dokter Tirta juga mengingatkan tenaga kesehatan agar berhati-hati ketika memberikan respons di media sosial. Sebab, komentar yang ditulis di ruang publik dapat dibaca dan dikonsumsi oleh banyak orang.
"Ketika kamu mereply akun seseorang, otomatis komenmu sudah menjadi publik, dan komen itu akan dikonsumsi oleh banyak orang. Ya, itu sosial media,” terangnya.
Menurutnya, kemampuan seseorang dalam bidang medis tidak selalu berarti memiliki kemampuan komunikasi yang sama baiknya. Terlebih, komunikasi melalui media sosial dapat dengan mudah disalahartikan karena tidak memiliki konteks percakapan secara langsung.
Karena itu, menahan diri untuk tidak memberikan respons ketika sedang emosi justru dapat menjadi pilihan yang lebih bijak.
"Menahan jari untuk tidak mereply komen yang tidak seharusnya itu sangatlah penting,” terangnya lagi.
Alih-alih memperpanjang perdebatan antara pasien dan tenaga kesehatan, Dokter Tirta berharap kasus seperti yang dialami Yurizal dapat menjadi bahan evaluasi.
Menurutnya, munculnya keluhan pasien seharusnya mendorong pihak terkait untuk mencari tahu apa yang menyebabkan persoalan tersebut terjadi. Jika pasien harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan kamar, maka perlu ada evaluasi mengenai mekanisme pelayanan dan komunikasi yang diterapkan.
