Wisata Religi ke Makam Ulama di Nagari Sumpur Kudus
- VoxPop.co.id/Andri Mardiansyah
Bahkan, keberadaan dan peran Syech Ibrahim di dalam wacana sejarah tradisional Minangkabau cukup diakui. Ia kerap bersama-sama dengan Sultan Alif yang bergelar Rajo Ibadat. Hingga kini, Makam Syech Ibrahim yang terletak di sebuah perbukitan yang dihiasi dengan pondasi batu-batu alam mengitari bukit dengan undak berjumlah tiga dan beberapa buah nisan kecil yang terkonsentrasi pada bagian tengah itu masih banyak didatangi para peziarah dari berbagai penjuru daerah. Ada juga yang datang dari luar Sumatera Barat, terutama pada bulan safar.
Kompleks makam Syech Ibrahim itu dilengkapi dengan gapura berbentuk batu monolit berpasangan membujur utara-selatan berjarak sekitar 95 centimeter (cm). Gapura batu berada di sisi timur dengan tinggi 65 cm, yang menunjukkan bahwa pintu masuk makam secara simbolis berada di sebelah timur.
![]()
Kedua buah makam di atas merupakan makam Syech Ibrahim beserta istrinya. Makam syech Ibrahim berada di sisi timur, sedangkan makam istrinya berada di samping baratnya. Kedua makam mempunyai nisan dari batu kali tanpa pengerjaan, dengan bentuk lonjong tidak beraturan.
Keseluruhan nisan itu mempunyai bentuk meruncing pada sisi atasnya, yang sepintas mirip dengan bentuk-bentuk menhir. Pada kompleks makam, juga banyak ditemukan batu-batu kali yang berserakan di sekeliling makam. Selain itu, pada lokasi makam ini, juga terdapat sebuah bangunan kayu atau cungkup kecil yang berada di sisi selatan makam. Cungkup tersebut merupakan bangunan baru yang dibuat oleh pihak Tim Ahli Istana untuk melindungi batu prasasti.
Batu prasasti berbentuk agak bulat dengan permukaan yang relatif datar. Tinggi batu yang berupa batu kali tanpa pengerjaan itu sekitar 60 cm dengan diameter sekitar 1,5 meter. Saat ini, batu prasasti itu telah diberi semen di dasarnya untuk menguatkan posisi berdiri batu tersebut.
Batu kali yang diduga sebagai prasasti dengan huruf pallawa berjumlah lima baris itu, ternyata sewaktu dilihat tidak menunjukkan adanya tulisan atau goresan-goresan yang mengindikasi adanya tulisan. Sepintas lalu saja, orang yakin bahwa batu tersebut bukan prasasti, apalagi didukung dengan bentuk batu alamiah, lazimnya batu kali biasa.
