Misool, Surga Tersembunyi Raja Ampat

Batuan kars di Balbolol, Misool, Raja Ampat
Sumber :
  • Rochimawati / VoxPop.co.id

Sesaat sebelum kapal merapat ke tangga yang akan menuju lokasi, jika diamati seksama di tebing terlihat kaligrafi bertuliskan lafaz Allah. Sampai di mulut gua yang tertutup batuan, terlihat tangga terbuat dari kayu.  Di sekitar gua ini terdapat makam keramat.

img_title Pesona Pulau Baer, Pecahan Surga di Maluku Tenggara

Lafaz Allah di dinding gua keramat di Misool.

Jika ingin mencapai makam tersebut, kita harus menaiki tangga. Di sana terdapat dua makam suami istri cukup besar yang telah diberi pembatas dari keramik berwarna. 

img_title 10 Tempat Bulan Madu Terbaik di Indonesia

Tidak ada nama di makam itu. Hanya tulisan beraksara Arab dan Latin yang menjelaskan tanggal pemakaman, 13 Juni 1977. "Itu merupakan makam penyebar agama Islam di Misool. Tidak ada yang tahu namanya," kata Nugroho Arif Prabowo, Koordinator Komunikasi dari TNC. 

Tepat di hadapan makam, terdapat mulut gua yang cukup besar yang di dalamnya penuh stalagmit. Untuk memasuki gua, harus menuruni anak tangga dari kayu karena ada sungai kecil dengan dasar karang yang cukup tajam. 

img_title Pantai Clungup, Raja Ampatnya Pulau Jawa

Arif menambahkan, menurut cerita, suami-istri penyebar agama Islam itu berasal dari Banda, Maluku Tengah, yang datang menggunakan perahu dayung. Sampai akhir hayatnya mereka tinggal di tempat itu, dan meminta dimakamkan secara Islam. 

Makam penyiar agama Islam di Misool, Raja Ampat

Permintaan tersebut ditekankan karena pada masa itu masyarakat biasanya menaruh jenazah pada karst dan dibiarkan hingga menjadi tulang-belulang. Tak jauh dari gua keramat, kami menyaksikan lubang-lubang pada karst yang berisi tulang manusia.

Sejarah Purbakala 

Sebagai daerah dengan banyak gunung karst, di kawasan gugusan Misool tepatnya di Selat Pana-pana juga banyak  ditemukan peninggalan prasejarah berupa cap tangan atau rock painting yang diterakan pada dinding batu karang. 

Rockpainting di Misool, Raja Ampat

Uniknya, cap-cap tangan ini berada sangat dekat dengan permukaan laut dan tidak berada di dalam gua. Menurut perkiraan, usia cap-cap tangan ini sekitar 50 ribu tahun dan menjadi bagian dari rangkaian petunjuk jalur penyebaran manusia dari kawasan barat Nusantara menuju Papua dan Melanesia.

Lukisan di dinding karang bentuknya bermacam-macam seperti kapal, ikan duyung, lumba-lumba, dan telapak tangan. "Kemungkinan yang bikin adalah nelayan yang melintasi wilayah ini," ujar Purwanto, peneliti dari TNC. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut