Mitos Jalan Braga Bandung Jalur Rasialis Kolonial Terungkap

Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1947.
Sumber :
  • Wikipedia

VoxPop.co.id - Jalan Braga. Namanya semasyhur kota Bandung. Bukan hanya karena sebagai jalan utama tetapi juga lantaran meninggalkan jejak sejarah era kolonial.

img_title DPRD Kota Bandung Usulkan Raperda Administrasi Kependudukan Adaptif soal Transformasi Digital & Mobilitas Penduduk

Tata letak kawasan itu pun dibangun mengikuti model di Eropa sesuai perkembangan Bandung pada masa tahun 1920-1940-an sebagai kota mode yang cukup beken seperti Paris di Prancis. Bangunan kompleks pertokoan di sisi kanan dan kiri jalan yang berciri arsitektur pada masa pemerintah Hindia Belanda masih dilestarikan hingga kini.

Berkembang satu mitos bahwa jalan itu disebut sebagai jalur rasialis bagi warga pribumi ketika masih bernama Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Konon, diberlakukan aturan warga pribumi dilarang melintasi jalan itu.

img_title Perkuat Kepercayaan Investor, Pemprov Jawa Barat dan PT PII Teken Perjanjian Penjaminan Proyek TPPASR Legok Nangka

Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017.

FOTO: Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017. (VoxPop.co.id/Adi Suparman)

img_title Persib Siapkan Konvoi Angkat Piala di Asia Afrika, Pemain Bakal Naik JPO Gedung Merdeka

Seorang pemandu wisata bus di Kota Bandung saat mendampingi sejumlah turis menceritakan betapa jalan itu dahulu haram bagi orang non-Eropa. Bahkan, katanya, ada semacam slogan bernada merendahkan orang pribumi. Diperkuat bukti bahwa bangunan pertokoan dan gedung-gedung di sana, termasuk Gedung Merdeka (dahulu bernama Societeit Concordia, tempat hiburan kalangan elite Belanda), hanya untuk orang Eropa.

Aji Bimarsono, pemerhati sejarah sekaligus Ketua Bandung Haritage, mengaku tak dapat memastikan mitos itu benar atau keliru. Tetapi, katanya, sejauh yang dia tahu tak ada jejak atau tanda-tanda bahwa Jalan Braga dahulu ialah jalur rasialis.

Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017.

FOTO: Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017. (VoxPop.co.id/Adi Suparman)

Aji hanya memastikan bahwa Jalan Braga dahulu ialah jalur aktivitas perekonomian dan distribusi barang. Sebagai jalur niaga, dia meyakini, tentu membutuhkan tenaga warga pribumi untuk mengangkut barang-barang atau komoditas hasil pertanian dan perkebunan dengan pedati (gerobak yang dihela kuda, lembu, atau kerbau).

"Pasti semua pedati lewat juga. Yang ngangkut barang belum tentu (orang) Belanda juga. Kemungkinan ada tukang-tukang (orang pribumi), (sehingga) jalan itu tidak tertutup buat pribumi," katanya kepada VoxPop.co.id.

Kawasan Jalan Braga sebagai kompleks pertokoan, menurut Aji, diketahui pada dekade kedua atau sekira tahun 1900-an. Memang menjadi kawasan perbelanjaan dan hiburan eksklusif, terutama karena keberadaan Societeit Concordia, tetapi kecil kemungkinan dilarang bagi kalangan pribumi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut