- REUTERS/Ivan Burnyashev
Hal yang sama juga berlaku di Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Putri Ayudya. Fenomena VOD menurutnya bukanlah sebuah ancaman bagi eksistensi bioskop. Namun, berbeda hal dengan TV kabel.
"Saya kira bioskop masih bisa menghadirkan pengalaman yang berbeda. Apalagi skrg ada IMAX. Bagi saya itu enggak tergantikan. Pengalaman nonton bareng bioskop dengan teman-teman masih spesial. Namun ya, bisa jadi TV kabel tergantikan bila seluruh program bisa diadopsi ke streaming. Tapi saya berharap ini justru menjadi pendorong dan bukannya kanibal untuk wilayah distribusi film. Juga untuk memperluas market hingga tempat yang enggak terjangkau bioskop," kata Putri.
![]()
Pendapat Putri juga diamini oleh Morgan Oey. Dia sendiri mengaku tidak akan pernah meninggalkan cara menonton film lewat bioskop, dengan alasan pengalaman yang tak bisa disamakan dengan cara menonton film lainnya.
"Kalau nonton sih aku enggak akan pernah ninggalin, karena menurut aku nonton di bioskop itu pengalaman sinemarik yang enggak bisa aku dapetin dengan misalnya nonton DVD di rumah. Nonton di layar TV sama di layar lebar itu pengalamannya berbeda sekali. Aku enggak akan pernah ninggalin nonton bioskop," ujar Morgan.
Bukan hanya para sineas film, Ted Sarandos selaku Chief Content Officer Netflix pun menyangkal jika layar yang lebih kecil, dalam hal ini VOD akan mematikan industri bioskop. "Ingat, Anda bisa makan makanan apapun di rumah yang bisa Anda makan di luar rumah. Namun, orang tetap memilih untuk makan di luar rumah," ucapnya. (ren)
