- VoxPopnews/ Andri Mardiansyah.
Warga Natuna menolak kedatangan WNI asal Wuhan
Namun dia tidak dapat memastikan apakah perginya warga Natuna pada satu hari itu dapat dikatakan eksodus atau bukan. Sebab, di hari yang sama ada beberapa momen yang terjadi di sekitar Kepulauan Riau, di antaranya panen cengkeh di beberapa wilayah. Biasanya, kalau di daerah Binjai terjadi panen cengkeh, sebagian warga yang tinggal di Natuna pergi ke Binjai untuk memanen hasil cengkehnya.
“Memang benar kita dapat data ada sekitar 900 orang penumpang yang akan naik kapal itu berangkat dari Natuna. Tidak menutup kemungkinan dari 900 penumpang itu pasti ada yang merasa ketakutan dan khawatir dengan adanya tempat observasi virus corona di sana.”
Minim Informasi
Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti membenarkan keluarnya sebagian masyarakat dari Natuna ke sejumlah daerah di sekitar Kepulauan Riau. Namun, ia membantah bahwa keluarnya sebagian masyarakat Natuna sebagai eksodus besar-besaran seperti yang beredar di dalam pemberitaan dan media sosial. Menurut dia, perginya sebagian Masyarakat Natuna dikarenakan beberapa faktor. Pertama, terjadinya panen cengkeh di sejumlah daerah penghasil cengkeh. Kedua, karena pemerintah kabupaten Natuna meliburkan sekolah yang ada di Pulau Natuna.
“Memang ada kekhawatiran sebagian masyarakat. Dan juga kemarin itu ada pengumuman waktu libur sekolah, jadi karena ada informasi itu jadi anak-anaknya dibawa juga pergi meninggalkan Natuna, karena informasi yang tidak jelas (tentang penyebaran virus corona) tadi itu,” ujarnya di lokasi yang sama.
Ngesti mengakui, ketakutan berlebihan yang dialami oleh sebagian besar masyarakat di Natuna dikarenakan terbatasnya informasi yang diperoleh oleh masyarakat terkait virus corona. Ditambah lagi, tidak adanya sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat kepada masyarakat Natuna tentang virus corona sebelum Natuna ditetapkan menjadi lokasi karantina atau observasi 238 WNI yang baru datang dari China. Masyarakat Natuna selama ini hanya mendapatkan informasi tentang virus corona yang membahayakan itu hanya dari media, dan itu sangat terbatas.
“Jadi miskomunikasi saja masalahnya. Dan itu sudah diakui oleh pemerintah melalui Menkopolhukam kemarin, sudah jumpa pers, beliau mengakui memang ada keterlambatan informasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat di Natuna,” ujarnya.
