SOROT 379

Kaya Berkat Rokok

Merokok di atas truk.
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta/Files


Senasib dengan Robert Hartono, Susilo Wonowidjojo, 87, juga mendapat keuntungan dari rokok Gudang Garam, perusahaan rokok tertua dan terbesar setelah Djarum. Susilo menjadi orang terkaya nomor dua di Indonesia pada 2015.

Kekayaannya saat ini mencapai US$5,5 miliar atau setara Rp76,45 triliun. Kekayaannya turun dibanding tahun lalu sebesar US$2,5 miliar, karena sahamnya merosot empat persen. 

Pada 2000, Susilo menjadi pemimpin Gudang Garam setelah mendapat mandat dari ayahnya, Suryo Wonowidjojo, sebagai presiden direktur menggantikan kakaknya, Rachman Halim yang meninggal pada 2008. Bisnis keluarganya ini berhasil membuka pasar di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura hingga ke Jepang. Gudang Garam memproduksi rokok sekitar 50 miliar batang rokok per tahun.

Saham PT Gudang Garam Tbk, yang pertama kali ditawarkan di bursa efek pada 1990, menjadi pencetak uang miliknya. Saham Gudang Garam bahkan menjadi penggerak Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar atau nilai perusahaan mencapai Rp107,4 triliun.

Laba bersih PT Gudang Garam Tbk, pada kuartal ketiga 2015 naik 1,05 persen menjadi Rp4,1 triliun dari Rp4,01 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba per saham perusahaan rokok asal Kediri ini naik menjadi Rp2.135 dari Rp2.101 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan juga naik menjadi Rp51 triliun dari Rp48 triliun pada sembilan bulan pertama.

Ketika di bawah kepemimpinan Rachman Salim, Gudang Garam melakukan ekspansi bisnisnya dengan merambah sektor perbankan, perhotelan, dan indsutri kertas pembungkus rokok yang bahkan telah diekspor ke Tiongkok.  Beberapa merek produk minuman kemasan terkenal juga diambilnya seperti Total, Zangrandi Tawar, Atlantic Air Minuman, dan Spirit AMDK.

Gudang Garam memiliki afiliasi dengan 10 perusahaan, yakni PT Adilaksa Manunggal, PT Karya Niaga Bersama, PT Madistrindo Abadi, PT Madistrindo Makmur, PT Madistrindo Prima, PT Pandya Perkasa, PT Surya Bhakti Utama, PT Surya Jaya Bhakti, PT Surya Kerta Bhakti dan Enso Surya Pte. Ltd.

Selain Robert Hartono dan Susilo Wonowidjojo, sebelumnya ada Putera Sampoerna masuk jajaran orang terkaya di Indonesia karena bisnis rokoknya terbesar ketiga di Indonesia. Nilai kekayaan Sampoerna dari industri rokok mencapai US$2,3 miliar. Namun kerajaan bisnisnya, PT HM Sampoerna Tbk, ia jual ke Philip Morris International, produsen rokok asal Amerika Serikat, pada 2005.

Saat ini Putera mencoba keberuntungan di kelapa sawit melalui PT Sampoerna Agro yang dikendalikan anaknya, Michael Sampoerna. Ia juga menekuni bisnis telekomunikasi, properti, dan perjudian dengan membeli kasino Les Ambassadeurs di London, Inggris, Maret 2006.

Penjualan rokok Sampoerna, yakni Dji Sam Soe dan A Mild, di Indonesia telah berkotribusi besar bagi peningkatan pendapatan dan keuntungan Philip Morris. Konsumsi rokok yang besar di Indonesia inilah yang menarik Philip Morris bernafsu membeli saham Putera Sampoerna. HM Sampoerna bahkan berhasil mencatat kapitalisasi pasar terbesar di bursa efek mencapai Rp440,6 triliun.

Penjualan rokok HM Sampoerna per September 2015 (kuartal III) lalu mencapai Rp65,5 triliun, dengan laba kotor perusahaan mencapai Rp15,74 triliun. Nilai aset per September 2015 mencapai Rp31,57 triliun. Gedung Sampoerna Strategic Square di Sudirman menjadi bukti kuatnya kerajaan bisnis rokok Sampoerna di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Rokok dalam Regulasi Indonesia
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut