- REUTERS/Beawiharta/Files
Longgarnya Hukum
Philip Morris pernah menyatakan tujuannya membeli saham Sampoerna karena melihat bisnis rokok kretek di dalam negeri cukup besar, hingga mencapai sekitar 92 persen dari total konsumsi rokok. Produsen rokok Marlboro ini mengincar pasar Indonesia lantaran minimnya regulasi pengendalian tembakau, sementara usaha mereka terjepit di banyak negara lain karena jeratan tuntutan hukum mengenai pelanggaran kesehatan.
Analis Pasar Modal, David N Sutyanto mengungkapkan, industri rokok menjadi primadona untuk ladang berinvestasi dan menjadi daya tarik investor karena potensi konsumsi rokok yang sangat besar di Indonesia. "Sekali merokok akan merokok terus," ujar David kepada VoxPop.co.id di Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016.
Margin atau keuntungan dari penjualan bisnis tembakau pun sangat tinggi. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok bagi kesehatan, dan regulasi pelarangan rokok di Indonesia membuat industri rokok terus berkembang.
"Hal itulah alasan mengapa perusahaan rokok di dunia menyasar negara berkembang termasuk Indonesia. Padahal di negara maju citra merokok jelek dan dilarang, karena merugi keuangan negara dan kesehatan masyarakat," kata David.
(ren)
