SOROT 379

Kaya Berkat Rokok

Merokok di atas truk.
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta/Files

Longgarnya Hukum

img_title Produksi Anjlok, Industri Rokok Minta Cukai Tak Naik di 2016

Philip Morris pernah menyatakan tujuannya membeli saham Sampoerna karena melihat bisnis rokok kretek di dalam negeri cukup besar, hingga mencapai sekitar 92 persen dari total konsumsi rokok. Produsen rokok Marlboro ini mengincar pasar Indonesia lantaran minimnya regulasi pengendalian tembakau, sementara usaha mereka terjepit di banyak negara lain karena jeratan tuntutan hukum mengenai pelanggaran kesehatan.

Analis Pasar Modal, David N Sutyanto mengungkapkan, industri rokok menjadi primadona untuk ladang berinvestasi dan menjadi daya tarik investor karena potensi konsumsi rokok yang sangat besar di Indonesia. "Sekali merokok akan merokok terus," ujar David kepada VoxPop.co.id di Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016.

Margin atau keuntungan dari penjualan bisnis tembakau pun sangat tinggi. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat  terhadap bahaya rokok bagi kesehatan, dan regulasi pelarangan rokok di Indonesia membuat industri rokok terus berkembang.

"Hal itulah alasan mengapa perusahaan rokok di dunia menyasar negara berkembang termasuk Indonesia. Padahal di negara maju citra merokok jelek dan dilarang, karena merugi keuangan negara dan kesehatan masyarakat," kata David.

(ren)

petani tembakau

RI Tolak Kebijakan Kemasan Rokok Tanpa Merek di Australia

Hal tersebut melemahkan daya saing industri nasional.

img_title
VoxPop.co.id
4 November 2016
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut