- REUTERS/Toru Hanai
Niantic pernah menciptakan game serupa bernama Ingress. Polanya hampir sama, menemukan objek AR di sebuah lokasi. Hanya saja nama besar Pokemon bisa mendongkrak permainan baru ini sehingga lebih diminati ketimbang Ingress.
Teknologi yang digunakan pun hampir sama, bekerja sama dengan Google, dan bisa mengakses akun Google penggunanya. Inilah yang dikhawatirkan masyarakat, semua data bisa bocor ke pihak ketiga, termasuk pemerintah dan intelijen. Pasalnya, Google mampu melacak lokasi dan kegiatan penggunanya di dunia maya.
Seorang warga memainkan game Pokemon Go di New York, Amerika Serikat. Foto: REUTERS/Mark Kauzlarich
Namun, pihak Niantic buru-buru membantah tudingan ini. Mereka mengatakan tidak pernah berniat untuk mendapatkan akses penuh ke akun Google penggunanya, baik Pokemon Go maupun Ingress. Mereka memastikan jika Google memberikan batasan akses terhadap akun pengguna sehingga hanya Informasi dasar saja yang bisa diakses Niantic, seperti username dan alamat email.
“Oleh Google, kami hanya diberikan akses ke Informasi dasar. Kami juga melihat adanya kekhawatiran akan akses penuh ke iPhone pengguna. Kami berupaya untuk memperbaiki ketentuan ini,” ujar pihak Niantic, seperti dikutip dari Recode.
Antisipasi
Meski melacak lokasi, Fahmi mungkin tidak terlalu menganggap game ini sebagai ancaman. Namun pengamat intelijen lain, Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati menyadari jika semua teknologi memiliki potensi yang membahayakan jika digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Oleh karena itu, dia tetap meminta kewaspadaan masyarakat terhadap permainan ini, yang jelas-jelas memanfaatkan aplikasi real time dan real location. Fahmi juga menyebut jika semua permainan akan memiliki masa sendiri. Artinya, jika sekarang Pokemon Go diminati, itu tidak akan berlangsung lama dan ada kalanya game ini perlahan ditinggalkan.
Namun bukan berarti dengan adanya tudingan itu, banyak orang tidak lagi bermain Pokemon Go. Seperti Google yang kerap dianggap mata-mata intelijen, baik melalui Google Earth, Maps dan Glass, tetap saja produk Google disukai dan digunakan sampai sekarang.
Sylvia, wanita gamers profesional yang tergabung dalam kelompok games NXA Ladies, mengatakan jika bisa saja pengguna mengakali teknologi pelacakan lokasi di Pokemon Go dengan teknologi lain. Salah satunya dengan aplikasi Fake Location. Selain itu untuk daya baterai yang boros, fitur high accuration bisa dibuat menjadi low.
