Pasar Digital Payment RI Masih 1 Persen
- VoxPop/M Ali Wafa
Sedangkan, pengguna digital di sini pertumbuhannya semakin meningkat. Melalui ekonomi digital maka pasar mereka akan lebih terbuka dan bisa menjangkau ke seluruh Indonesia.
Anda melihat kendalanya ada di mana?
Salah satu kendala dari ekonomi digital adalah pembayaran. Karena, masyarakat Indonesia masih mendominasi pembayaran dengan uang tunai atau cash yang masih 90 persen.
Sisanya, sekitar 8 sampai 9 persen memakai kartu, baik debit/ATM, maupun kredit, serta digital payment di bawah 1 persen. Jadi, kuenya masih sangat besar. Ini pula yang men-trigger kami untuk masuk ke sana.
Dapat dikatakan OVO adalah platform pembayaran lokal?
Benar, kami purely local. Pemegang saham mayoritas kami Lippo Group.
Strategi bisnis apa yang Anda jalankan?
Kami ingin memperluas cakupan pengguna dengan apa yang dinamakan use-case. Artinya, bagaimana pengguna memakai produk financial services kami mulai dari bangun tidur, aktivitas, sampai tidur kembali.
Untuk meng-create-nya memang tidak mudah. Karena itu, pada tahun pertama berdiri, kami membangun ekosistem yang dimulai dari ritel milik Lippo Group seperti Hypermart, Agoda, First Media, Maxx Coffee, MatahariMall.com.
Kami datangi mereka satu per satu. Butuh waktu dan cost pun tinggi. Tapi, kami ingin membentuk ekosistem ini dengan cepat, sebab, enggak mungkin jalan sendiri harus kerja sama atau partner.
Kemudian, ekosistem kami diperluas di luar Lippo Group ke merchant-merchant seperti pom bensin Shell, Ace Hardware, dan yang terakhir, dengan Bank Mandiri.
Selain ritel, kami juga mengembangkan ekosistem transportasi dengan menggandeng Grab dan Trans Semarang. Saat ini, kami sedang proses juga di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Adapun yang ketiga ekosistem untuk online bekerja sama dengan beberapa online payment.
![]()
Bagaimana potensi bisnis platform pembayaran di Indonesia?
Begini, siapa yang ekosistemnya bekerja itu yang akan menang. Kami sadar kalau kami bukanlah pemain tunggal di sini. Dan, saya tidak juga melihat ini Indonesia, itu asing. Tapi harus diingat, pasar digital payment kita masih 1 persen.
Kesempatan untuk menang sangat besar. Apalagi, ini 'kampung halaman' kita, masa kita kalah sih. Khusus pembayaran, untuk tahun depan, growth atau pertumbuhannya tetap besar.
