Sumpah Pemuda Dibungkus Nusantara Berdendang di Istana
Ada banyak dalang dan jenis wayang yang tampil bareng dalam satu panggung. Dari Ciamis, ada Wayang Landung dan Bebegig. Dari Bandung, ada Wayang Orang yang ikut dirangkul. Dan dari Jogjakarta, ada transformasi wayang kulit yang divisualkan dalam bentuk wayang pulo. Bagaikan music orchestra, semua dalang yang memainkan aneka jenis wayang tadi, bisa menyatu dengan apik di bawah komando Wayang Ajen.
Lantas apa sih warna yang ditampilkan di atas satu panggung utama, dua panggung musik dan satu panggung untuk wayang dan paduan suara itu? Kenapa juga ribuan masyarakat dan sejumlah tokoh-tokoh penting di negeri ini sampai tertegun?
Magnetnya tidak hanya satu. Dari sisi durasi, kolaborasi jenis wayang itu hanya diberi waktu 7 menit. Waktu 10 menit yang sempat diberikan di awal latihan dikompres lagi lantaran banyak atraksi yang dihadirkan hingga pukul 21.50 WIB itu. "Saya pernah tampil 58 detik. Ketatnya durasi sudah bukan barang baru bagi wayang ajen," ujar Wawan Gunawan, dalang wayang ajen, Jumat (28/8) malam.
Hal istimewa lainnya? Ada di teknik. Jumat malam, penampilan Wayang Ajen di Istana Kepresidenan Republik Indonesia itu benar-benar ‘wow’. Sajian musiknya tergolong tak biasa. Nuansanya Indonesia banget! Hampir semua wilayah di Nusantara dimasukkan ke dalamnya. Dari mulai musik tradisional Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, kawasan cross border, semuanya ada. Dan semua tamu yang hadir di Istana terlihat enjoy mendengarkan lantunan music tradisional yang diracik sangat apik itu.
Display wayangnya, benar-benar out of the box. Bentuk, warna-warni, postur, asesoris yang ditampilkan sangat tak biasa. Beberapa di antaranya ada yang berbentuk lima pulau besar di tanah air. Dari mulai display wayang berbentuk Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua, semua ada. Ada juga wayang raksasa setinggi 2,5 meter.
“Ini adalah buah perjalanan Wayang Ajen yang pernah tampil di 49 negara selama 17 tahun. Jadi warna-warna menarik di berbagai belahan dunia ikut dibawa ke Istana,” kata Dalang Wawan.
Pengalaman manis saat mendapatkan penghargaan untuk penampilan terbaik di Festival de Titeres de Canarias 2009 Spanyol kembali dipertontonkan. Pesan-pesan sarat makna saat tampil di Yakutsk, Republik Sakha (Yakutia), Federasi Rusia, 2012 silam juga ikut disisipkan. Interaksi aktif antara penonton, wayang dan dalang yang sempat diperlijhatkan di Yunani, Belanda, Perancis dan Italia juga tetap diperlihatkan.
