Menpar Arief Yahya Berpantun di Festival Bahari Kepri 2016
“Pemandangan seperti inilah yang kita mimpikan di Tanjung Pinang sejak dulu,” ujarnya.
Satu-satunya yang masih minus adalah keberadaan marina. Bagi Indroyono, marina sangat perlu dibangun di Tanjung Pinang mengingat lokasi Tanjung Pinang sangat dekat dengan Singapura. Dari Singapura ke Tanjungpinang hanya butuh sekitar satu setengah jam. Dan kebetulan, Singapura adalah surganya yachters dunia. Negeri Singa Putih itu menjadi tempat sandar 4.000 yachts setiap harinya.
Selain wisata bahari, ada pusat budaya Melayu di sana. "Dan ini harus ditonjolkan. Kegiatan Festival Bahari harus menjadi event tahunan digelar setiap Minggu ke-4 Oktober," ujarnya.
Hal lain yang dipandang mendesak adalah faktor cuaca. "Hari ini cuaca agak kurang bersahabat dan angin cukup kencang. Para yachter jadi harus ekstra waspada agar kapal-kapal mereka yang lego jangkar tidak saling tabrakan. Jadi Tanjung Pinang perlu membangun marina. Mudah-mudahan marina sudah hadir di Tanjung Pinang pada 2017,” katanya.
Lantas berapa investasi yang harus disiapkan? “Marina harganya sekitar Rp15 miliar untuk sandar 30 yacht. Dengan sewa sandar Rp300 ribu per hari, sudah Rp9 juta yang bisa diambil per hari. Kalau dikalikan setahun? Sudah Rp3,285 milar. Hanya dari biaya sandar, dalam lima tahun biaya sudah bisa kembali,” kata Indroyono.
Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti makin semangat mendengar ulasan detail Indroyono. Meskipun Tanjungpinang tidak ada dalam peta yachter dunia, belum punya marina, para yachter dunia tetap datang ke sana. Bahkan angkanya sudah mampu memecahkan jumlah peserta Sail Bunaken 2009 yang sudah lebih dulu ada.
“Persiapan selanjutnya adalah membangun marina di Tanjungpinang. Apabila dirancang elegan, Tanjungpinang bisa menjadi water front city di Kepri. Semua harus ditebus dengan kerja keras dalam sebuah platform dan roadmap yang jelas,” ujar Guntur. (webtorial)
