Konspirasi Amerika Dukung Turki, Usir Militer Asing di Libya
- Al Jazeera
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres telah memperingatkan bahwa ada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu campur tangan asing dan tentara bayaran di negara penghasil minyak Libya.
O'Brein juga secara terang-terangan mengatakan bahwa Amerika Serikat sangat terganggu oleh meningkatnya konflik di Libya, serta intervensi oleh kekuatan asing merusak kepentingan keamanan kolektif Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.
Dengan demikian sangat jelas bagaimana posisi Amerika Serikat (AS) di Libya yang mengklaim dirinya seolah-olah netral. Amerika sama sekali tidak menginginkan Libya dikendalikan oleh Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Marsekal Khalifa Haftar. Sebab, jika Libya dimenangkan oleh Khalifa Haftar, berarti itu merupakan kemenangan bagi Rusia, Mesir, UEA, dan Prancis yang saat ini berada di kubu Khalifa Haftar. Begitu juga sebaliknya, kalau konflik Libya ini berhasil dimenangkan oleh pemerintahan Libya hasil kesepakatan internasional yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj, itu berarti kemenangan bagi Turki dan Amerika Serikat.
Untuk diketahui, konflik Libya pecah setelah penggulingan pemimpin Muammar Gaddafi yang didukung NATO pada 2011. Sejak 2014, negara itu terpecah, dengan pemerintah yang diakui secara internasional dibawah kendali Fayez al-Sarraj dengan mengendalikan ibukota, Tripoli, dan barat laut, sementara pemimpin militer Khalifa Haftar di Benghazi memerintah di timur.
Masing-masing kubu memiliki dukungan negara asing, Khalifa Haftar didukung Rusia, Mesir, UEA, dan Prancis, sementara Pemerintahan Libya hasil kesepakatan nasional (GNA) didukung oleh Turki dan Amerika.
Baca : Gila, Ternyata Rusia Punya 'Monster Nuklir' yang Bisa Membuat Tsunami
