Mobil Listrik Kian Dijauhi di Amerika

Ilustrasi pengisian baterai mobil listrik.
Sumber :
  • Paultan

New York, VoxPop – Meski teknologi mobil listrik telah berkembang pesat, adopsinya di Amerika Serikat masih tergolong lambat. Bahkan, belakangan ini terlihat peningkatan sentimen negatif terhadap kendaraan listrik di kalangan publik.

img_title Harga Minyak Dunia Turun usai AS Lanjutkan Perundingan Damai dengan Iran

Negara lain seperti China dan Eropa mengalami pertumbuhan pesat dalam penjualan EV. Namun, Amerika justru tertinggal meski menjadi salah satu pasar otomotif terbesar dunia.

Dikutip VoxPop Otomotif dari Carscoops, Minggu 20 Juli 2025, salah satu alasan utama adalah budaya otomotif Amerika yang sangat berakar pada mesin pembakaran internal. Banyak orang Amerika masih mengasosiasikan mobil sejati dengan suara mesin dan tenaga besar.

img_title Iran Bantah Berunding dengan AS soal Selat Hormuz

Mobil listrik sering dianggap kurang “maskulin” atau terlalu “canggih” untuk penggunaan sehari-hari. Sebagian orang bahkan menyamakannya dengan peralatan rumah tangga, bukan kendaraan.

Mitos-mitos seputar mobil listrik juga masih sangat kuat di masyarakat. Contohnya, anggapan bahwa baterai mudah meledak atau harus diganti setiap dua tahun masih banyak dipercaya.

img_title Penembakan di Restoran AS, Sejumlah Orang Dilaporkan Tewas

Ketidaktahuan ini sebagian diperkuat oleh berita clickbait dan propaganda anti-EV yang tersebar luas di media sosial. Banyak warga tidak memiliki akses pada informasi yang akurat mengenai teknologi kendaraan listrik.

Isu infrastruktur pengisian daya juga menjadi hambatan besar. Stasiun pengisian belum merata dan banyak daerah terpencil sama sekali tidak memiliki fasilitas ini.

Selain itu, waktu pengisian baterai yang relatif lama dibandingkan pengisian bensin masih menjadi kekhawatiran. Meskipun teknologi fast-charging sudah tersedia, belum semua pengguna mengetahuinya atau percaya efektivitasnya.

Harga kendaraan listrik juga masih dianggap tinggi oleh sebagian konsumen. Padahal, dalam banyak kasus, total biaya kepemilikan EV justru lebih rendah dalam jangka panjang.

Subsidi pemerintah yang sempat membantu menurunkan harga mulai dihentikan secara bertahap. Hal ini membuat minat masyarakat terhadap mobil listrik kembali melemah.

Faktor politik turut mempengaruhi opini publik terhadap EV. Banyak pihak konservatif mengasosiasikan mobil listrik dengan agenda lingkungan yang dianggap politis.

Kampanye negatif dari industri minyak juga memperkuat penolakan terhadap EV. Mereka menciptakan narasi bahwa mobil listrik membahayakan pekerjaan di sektor energi tradisional.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut