Indonesia Krisis Budi Pekerti

Ilustrasi aktivitas ospek/plonco di sekolah
Sumber :
  • VoxPop.co.id/jangankuper.com

Berakar dari budaya
 
Berbicara soal kasus kekerasan di sekolah, seperti yang terjadi pada Budi dan MH, maupun RM dan MBP, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Susanto, MA, melihat hal tersebut sebagai persoalan mindset, yaitu tak sedikit guru yang menganggap bahwa pendekatan kekerasan sebagai cara efektif untuk menegakkan kedisiplinan.  
 
“Padahal meski tujuannya baik, tetap dianggap sebagai pelanggaran,” ujar Susanto kepada VoxPop, Jumat, 13 April 2018.
 
Dihubungi secara terpisah, psikolog dan pendidik dari Sekolah Cikal dan komunitas Keluarga Kita, Najelaa Shihab, menyampaikan pernyataan yang senada dengan Susanto.
 
Menurut wanita yang akrab disapa Ella itu, tak sedikit guru di sekolah maupun orangtua di rumah yang masih menganut paham bahwa untuk menerapkan disiplin, harus menempuh metode kekerasan. Sehingga anak atau murid terbiasa melihat contoh-contoh kekerasan itu dalam proses tumbuh kembang mereka.  

img_title Dua Pelajar SMP di Malang Jadi Tersangka Kasus Bullying Temannya

Anggota Pramuka menampilkan Tarian Tongkat saat Jambore Pandu Sekolah Model
 
“Masalah utama di dunia pendidikan kita itu budaya kekerasan. Pola disiplin yang dipakai guru di sekolah, bahkan orangtua di rumah, masih sering menggunakan kekerasan. Bahkan anak tumbuh dengan terbiasa digunakan cara kekerasan, meski bukan kekerasan fisik, tapi kekerasan verbal seperti ancaman, itu masih umum sekali,” kata Ella kepada VoxPop, Jumat, 13 April 2018.  
 
Ella menegaskan, bentuk kekerasan yang banyak mengemuka merupakan sebuah gejala, bukan inti dari permasalahan itu sendiri. Sebagai contoh pada kasus Budi dan MH, sebelum MH menghajar Budi, guru muda itu sempat mencoret muka MH menggunakan cat lukisan dengan tujuan menegur perilaku MH. Artinya, Budi sendiri telah terlebih dahulu menyalurkan hukuman fisik pada MH, meski skalanya ringan.  
 
“Saya yakin guru-guru itu tidak ada yang dengan sengaja ingin menyakiti anak muridnya. Tapi mereka terjebak dalam lingkaran emosional,” tegas Ella.  
 
Di sisi lain, Ella juga menyoroti anak-anak yang melakukan tindak kekerasan di sekolah bisa jadi tergolong anak-anak yang kurang mendapat penghargaan atau apresiasi. “Kalau anak itu aktif berprestasi, aktif di sekolah, dan merasa mendapat tantangan dari pelajarannya, itu pasti mereka tidak akan memilih melakukan kekerasan,” kata Ella.  
 
Timbulnya kekerasan, baik dari sisi guru maupun murid, juga bisa disebabkan oleh adanya hubungan yang tak baik antara kedua belah pihak. Ella menyebutnya sebagai konsep memanusiakan hubungan. Padahal hubungan yang baik merupakan pondasi dalam pembentukan karakter anak.  
 
“Saya bilangnya memanusiakan hubungan tuh tidak ada dalam pendidikan. Yang namanya anak, kita tidak harus terpaku pada mengajar materi (pelajaran). Tapi menjalin hubungan dengan anak, membantu dia mengelola emosinya, mengarahkan supaya perilaku dia berakhlak, seharusnya kita lebih banyak begitu,” kata Ella.  
 
Oleh karenanya, Ella mengingatkan tentang apa prioritas yang ingin dicapai sebagai pendidik atau guru. “Anak punya karakter yang baik? Atau yang penting ikut pelajaran, lalu lulus? Sehingga supaya akhirnya demi anak mau ikut pelajaran, akhirnya anak digebukin, deh. Apa bangga tuh kalau lulus, tapi kualitas karakternya seperti itu?” ujar Ella menambahkan.  
 
Meski demikian, Ella paham bahwa banyak para guru yang juga sebenarnya menyadari akan pentingnya prioritas penanaman karakter positif pada murid, tapi terjebak dalam aturan dan sistem pendidikan di Indonesia yang masih mendewakan nilai akademik. “Saya paham betul banyak guru yang sebenarnya tidak senang dengan keadaan ini, tapi dia merasa terjebak di sistem. Sehingga seolah-olah yang paling penting itu nilai ujian yang tinggi.”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut