Ciduk Pelakor Via Detektif Perselingkuhan
- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarok A
Tetapi, dikatakan oleh psikolog anak dan keluarga sekaligus Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Sani Budiantini, hal tersebut bukan cara yang tepat.
"Mengumbar hal tersebut di medsos, sama saja mengumbar aib rumah tangga sendiri. Tentunya para korban pelakor harus memiliki strategi tersendiri dalam menghadapi pelakor," ujar Sani.
![]()
Ia menilai, media sosial bukan wadah tepat untuk memberi hukuman kepada sang pelakor tersebut. Seharusnya masalah bisa diselesaikan secara personal dengan dibicarakan langsung.
"Lebih baik mengarah untuk menyelesaikan secara personal dan secara baik-baik dengan perempuan itu. Karena strategi itu lebih baik dibandingkan memviralkan lalu membuat pelakor itu mendapat gunjingan dari masyarakat," ucapnya.
Bagaimana pun juga, benar yang dikatakan bahwa selingkuh adalah sebuah pilihan. Jika suatu saat Anda berada di posisi sebagai korban perselingkuhan, berpikirlah dengan bijak sebelum bertindak.
Sebelum mem-bully dan membalas dendam kepada pelakor, Anda mungkin juga harus membicarakannya lebih dulu pada pasangan, karena orang yang setia tak akan memberikan kesempatan pada pihak ketiga. Apalagi jika hal itu terjadi lebih dari sekali. Ada kutipan terkenal yang berbunyi, 'You can't make the same mistake twice. The second time you make it, it's no longer a mistake, it's a choice'.
