Dilan 1991, Serangan Sentimental Sang Panglima Tempur
- Max Pictures
Namun momen ketika teman Dilan tiba-tiba meninggal dunia membuat konflik Dilan Milea terasa cukup pada klimaksnya. Dialog Milea, Bunda, dan Dilan akhirnya membuat film ini terhindar dari krisis plot yang monoton. Adegan ketika Milea harus meninggalkan Bandung pun terasa begitu memilukan.
Beberapa setting lokasi terasa agak mengganggu. Misalnya mal di Bandung yang terlihat modern, peletakan logo provider telekomunikasi berwarna merah, sampai merek roti, mengurangi rasa klasik era 1990-an-nya Dilan.
Meski begitu, usaha seluruh tim dalam film ini tentu saja patut diapreasiasi. Milea dan kawan-kawan terlihat sangat natural, tanpa riasan berlebih, bahkan lebih alami dibanding pada film pertama. Karena syuting dilakukan sekitar setahun setelah Dilan 1990, mereka juga tampak begitu berusaha agar tidak terjadi banyak perubahan fisik yang signifikan, kecuali Dilan yang sedikit saja lebih gemuk dan kinclong wajahnya.
Riak-riak Penolakan
Euforia kembalinya Dilan ke layar lebar ternyata juga diwarnai sejumlah protes. Mulai dari soal Hari Dilan, Dilan Corner, sampai yang terbaru aksi sejumlah mahasiswa di Makassar.
Hari Dilan merupakan sebuah peringatan dari studio untuk penggemar yang jatuh pada tanggal premiere Dilan, 24 Februari 2019 lalu. Sementara Dilan Corner merupakan sebuah sudut di Bandung yang diresmikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan sejumlah bintang utama film ini. Kabarnya, pria yang akrab disapa Kang Emil itu akan menjadikan sudut tersebut sebagai tempat untuk ajang literasi, sebab menurutnya, film Dilan mengekspesikan nilai sastra.
Sayangnya, Hari Dilan dan Dilan Corner menuai kritik dari sejumlah orang. Kritikus sastra, Maman S Mahayana berpendapat, pembangunan 'monumen' dan peringatan Hari Dilan itu hanya terpengaruh oleh situasi sesaat, di mana film Dilan memang sedang digandrungi berbagai kalangan saat ini.
"Saya kira yang menentukan hari-hari seperti itu melupakan sejarah. Dia terpengaruh oleh situasi yang sesaat, heboh sesaat, itu model-model kebudayaan populer, itu cenderung seperti itu. Heboh, kemudian latah ngikutin macam-macam, termasuklah membuat perayaan hari yang bersangkutan (Hari Dilan)," ujarnya saat dihubungi VoxPop, 27 Februari 2019.
