KRL Commuter Line Celaka, Apa Sebab?
- ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Beroperasi Lagi
Sementara itu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumardi saat meninjau lokasi KA 1722 commuter line yang terguling di pintu perlintasan Kebon Pedes mengatakan sudah berkordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Dalam proses evakuasi yang telah dilakukan adalah mendatangkan kereta crane dari Bandung, sehingga jalur kereta sudah bisa digunakan lagi pada Senin siang pukul 14.00.
![]()
Sementara, Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, mengatakan,, beberapa gerbong yang langsung dibawa ke masuk Stasiun Depok dan Manggarai.
"Saya ingin sampaikan, kami dari semua tim dari dirjen dan KAI berupaya supaya menyelesaikan ini semua," kata Edi Sukmoro.
Mengenai penyebab celaka, kata dia, KNKT akan menyelidiki atau mencari penyebabnya sehingga tidak terjadi lagi.
Perbaikan Prasarana KRL
Beberapa hari sebelum kecelakaan KRL 1722, Presiden Joko Widodo sempat mencoba KRL saat pulang kantor dari Stasiun Tanjung Barat menuju ke Stasiun Bogor.
Dalam kegiatan mendadak itu, Presiden Joko Widodo sempat menanyakan sejumlah pertanyaan kepada para penumpang yang berdesakan. Di mana sejumlah penumpang menginginkan adanya tambahan jadwal kereta hingga tambahan gerbong.
Presiden mengakui banyak masukan masyarakat yang disampaikan terkait pelayanan kereta commuter line Jakarta-Bogor saat jam padat. Sehingga, Jokowi berharap bisa segera menyelesaikan masalah yang dirasakan penumpang.
Seperti diketahui, KRL commuter line saat ini sudah menjadi transportasi massa primadona pilihan masyarakat. Antusias tinggi masyarakat menggunakan KRL belum sebanding dengan jumlah sarana gerbong yang tersedia.
Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro menjelaskan, saat ini ada 160 gerbong baru yang masih dalam tahap uji untuk penambahan KRL Jabodetabek.
"Setiap tahun kereta selalu nambah gerbong. Tahun ini schedule-nya datang 160 gerbong. Jadi kita memang berupaya masyarakat yang menggemari KRL ini bisa dibantu," kata Edi, Minggu, 10 Maret 2019.
Edi menjelaskan, gerbong KRl baru masih dalam proses sertifikasi hingga uji kelaikan di Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Menurutnya, dalam teknis sertifikasi membutuhkan waktu. Dalam prosesnya, melalui uji berkala dan uji bersama.
![]()
Sementara itu, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno mengatakan tak cukup hanya andalkan tambahan prasarana kereta api dan mengabaikan sisi keselamatan lainnya.
