Sukses Tangkal Corona di Natuna

Masa observasi 238 WNI dari Wuhan, China, selama 14 hari di Natuna dinyatakan berakhir pada tanggal 15 Februari 2020 pukul 12.00 WIB.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Untuk menangani 243 yang diobservasi tersebut, jelas Dhani, dibentuk satgas kesehatan. Yakni, sejumlah 112 orang yang terdiri dari tim medis, psikolog, maupun dari Palang Merah Indonesia (PMI). Menurut dia, semua senang berada di tempat observasi.

img_title Usai Gempa M 7,1 di Jepang, Apakah Wisatawan Masih Aman Berkunjung?

"Saya melihat sendiri langsung bahwa di Natuna, bisa dijadikan model kebersamaan bagaimana kita hadapi peristiwa ini," ujarnya.

Indonesia Bebas Corona

img_title Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Kemlu Ungkap Kondisi WNI yang Jadi Korban

Presiden Joko Widodo mengatakan, berdasarkan protokol kesehatan dari organisasi kesehatan dunia, WHO, proses itu sudah selesai dilakukan. Maka, 238 WNI yang diantaranya adalah pelajar dari Wuhan, sumber asal virus corona atau covid-19, sudah bisa kembali ke daerah dan keluarga masing-masing.

"Sekarang mereka kembali ke masyarakat sekarang itu dipastikan memang prosedur sudah dilalui dan masyarakat memang menerima apa adanya karena sudah 14 hari dan tidak ada masalah," kata Jokowi, di sela-sela kunjungan kerjanya di Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

img_title FSI Ungkap Potensi Kerugian Triliunan Rupiah Akibat Klaim China di Natuna

Presiden Joko Widodo

Presiden Joko Widodo.

Kepala Negara menegaskan, dengan berakhirnya masa karantina itu maka 238 WNI tersebut tidak terjangkit corona. Maka ia meminta, agar masyarakat tidak perlu mengkhawatirkannya.

"Dikit-dikit takut, lha tidak lah. Semua proses protokoler sudah dilakukan, terima apa adanya tidak ada masalah," kata mantan Gubernur DKI itu.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto juga menjawab keraguan sejumlah pihak asing, mengenai nihilnya kasus virus corona di Indonesia. Dia menegaskan, segala upaya telah dilakukan untuk mencegah masuknya corona ke Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan penelitian epidemiologist Marc Lipsitch dari Harvard TH Chan School of Public Health menyampaikan keraguannya terhadap Indonesia yang masih nihil korban wabah virus mematikan itu.

"Mereka boleh heran tapi itu kan kenyataan. Kalau kenyataan itu mau dianggap mengada-ada, gimana. Aku seorang yang tidak terbiasa untuk melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Saya akan memberitahukan apa yang ada," kata Terawan di Istana Bogor, Jawa Barat

Pemerintah Indonesia tidak menutup-nutupi jika memang ada temuan kasus corona di Indonesia. Ia juga meminta peneliti dari Harvard atau siapa pun untuk melihat yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani virus itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut