Sri Mulyani Kejar Setoran Receh Cukai yang Manis dan Kotor
- ANTARA FOTO/Reno Esnir
Skema cukai seperti itu, umpamanya cukai pada kendaraan bermotor, akan secara bertahap mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi lebih hemat BBM. Tapi, karena ada insentif, produsen mobil juga bisa lebih bersemangat untuk mengekspor ke luar negeri.
DPR, meski mendukung, tetap memberikan catatan kritis untuk Sri Mulyani. Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai rencana kebijakan itu setengah hati. Dalam hal upaya mengurangi sampah plastik, contohnya, mestinya diterapkan juga cukai untuk barang-barang plastik selain kantong keresek. Kalau hanya pada kantong keresek, dampaknya tak signifikan untuk mengurangi pencemaran lingkungan dari material itu, bahkan potensi penerimaan negara tidak lebih dari Rp1,5 triliun saja. "Makanya," dia mengusulkan, "karena risikonya sama, usulkan saja memasukkan sepuluh objek sama saja.”
Politikus Partai Golkar itu mengingatkan juga bahwa kendaraan bermotor bukanlah satu-satunya sumber emisi karbon yang menyumbang pencemaran udara; ada sektor industri atau manufaktur yang juga menghasilkan emisi. Sebab, sumber utama emisi karbon adalah bahan bakar. Maka, menurutnya, bahan bakar mestinya juga dikenai cukai, sebagaimana diberlakukan di sejumlah negara. (ase)
