Ujian Nasional Menantang Maut Corona
- VoxPop/Yasir
VoxPop – Pemerintah nekat. Ujian Nasional tahun 2020 untuk Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas tetap diselenggarakan sesuai jadwal di tengah ancaman wabah virus corona Covid-19, tidak hanya secara global melainkan Indonesia juga.
Badan Kesehatan Dunia sudah menyatakan status pandemi. Kasus infeksi Covid-19 di dunia telah mencapai 126.293 orang per 12 Maret 2020. Di Indonesia, jumlah warga yang dinyatakan positif terinfeksi corona terus bertambah dari hari ke hari: 34 orang —lonjakan signifikan hanya dalam 10 hari sejak kali pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.
Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Berbasis Komputer yang massal dan serentak itu sebentar lagi. Yang paling dekat adalah UN untuk Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Khusus pada 16 Maret. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada 8,3 juta peserta UN dari semua jenjang pendidikan se-Indonesia. Keselamatan mereka dipertaruhkan.
Bagaimana Protokol Kesehatan?
Para murid SMK/MAK mengawali UN pada 16-19 Maret. Menyusul setelahnya bagi jenjang pendidikan lainnya: Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah 30 Maret-2 April, Pendidikan Kesetaraan Program Paket C/Ulya 4-7 April, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsnawiyah 20-23 April, dan Pendidikan Kesetaraan Program Paket B/Wustha 2-4 Mei.
![]()
Ringkasnya, jutaan murid peserta UN, juga para pihak yang terlibat, akan berkumpul di satu momen selama 20 hari dalam periode 16 Maret sampai 4 Mei itu. Potensi penularan virus corona, sedikit atau banyak, tetap ada, atau bahkan mungkin besar.
Di sejumlah negara —13 negara menurut catatan Badan Pendidikan dan Kebudayaan Dunia—kegiatan belajar dan mengajar diliburkan dan sekolah-sekolah ditutup, sebagian secara nasional dan yang lainnya bersifat lokal. Arab Saudi, dengan jumlah infeksi 45 kasus, telah sejak dini menutup sekolah-sekolah di sana dan menggantinya dengan pembelajaran secara virtual.
Intinya, pemerintah negara-negara itu membuat kebijakan yang menghindarkan para warga negaranya dari pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak orang, termasuk di sekolah-sekolah dan universitas-universitas. Pemerintah Indonesia, barangkali karena merasa kasus corona belum mengkhawatirkan, memutuskan tetap melaksanakan UN yang melibatkan sedikitnya 8,3 juta murid.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak menjelaskan dengan terang alasan tetap menyelenggarakan UN, meski “dengan ekstra kehati-hatian," sebagaimana dikatakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Totok Suprayitno.
