Politik Pilkada, Istri Tua Lawan Istri Muda
- Antara/ Regina Safri
Di Indramayu, Jawa Barat, istri Bupati Irianto MS Syafiuddin (Yance) yang bernama Anna Sophanah juga dipastikan menang dalam pemilihan kepala daerah. Anna ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) meraup 60,78 persen suara bersama pasangan calon Wakil Bupati Supendi.
Lingkaran politik keluarga sudah menyebar ke sekujur negeri ini. Ada yang mengantikan sang suami, ada pula yang mengantikan jabatan yang ditinggalkan sang ayah. Lihatlah yang terjadi di Cilegon, Banten. Tanggal 20 Juli 2010 lalu, Tubagus Iman Ariyadi dilantikan mengantikan sang ayah, Tb Aat Syafa'at sebagai Walikota Cilegon.
Sebelumnya, 30 Juni, Rita Widyasari dilantik pula menjadi Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Rita merupakan anak dari Syaukani Hassan Rais, Bupati Kutai Kartanegara yang nonaktif dan digantikan pejabat sementara karena kasus korupsi.
Mengapa para sanak keluarga itu begitu menguat dalam politik daerah. Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, menegaskan bahwa kemenangan para keluarga incumbent ini sangat masuk akal. Mereka, kata Burhan, unggul karena beberapa alasan. Pertama, memiliki keluasan jangkauan popularitas yang lebih baik daripada calon lain.
"Mereka selaku istri atau anak dari incumbent, tentu ikut dalam acara-acara pemerintahan sehingga popularitasnya terdongkrak," kata Burhan.
Faktor kedua, keluarga ini juga diuntungkan dengan keberadaan dana hibah di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). "Pengeluaran dana semacam ini tak perlu tender," kata Burhan. "Sehingga incumbent bisa saja mengeluarkan Rp10 juta atau Rp15 juta untuk Karang Taruna atau masjid yang diambil dari APBD," katanya.
Ada yang Kalah
Namun, dua keunggulan ini tak selalu menjamin kemenangan. Di beberapa daerah, para keluarga ini justru kalah. Di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Titik Suprapti, gagal menggantikan suaminya, Bambang Riyanto, sebagai bupati. Di Labuhan Batu, Sumatera Utara, Adlina T Milwan, juga gagal menggantikan suaminya menjadi Bupati. Di Sidoarjo, Jawa Timur, Emy Susanti juga harus kecewa gagal menggantikan suaminya, Wim Hendarso, sebagai Bupati.
Dalam pemilihan Gubernur Kepulauan Riau, istri Gubernur Ismeth Abdullah, Aida Zulaikha Ismeth, juga harus kecewa. Aida maju dalam pencalonan setelah Aida yang berpasangan dengan Eddy Wijaya dikalahkan oleh pasangan HM Sani dan HM Soeryo Respationo sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau 2010-2015.
Menurut Burhan, kekalahan-kekalahan ini umumnya terjadi ketika sang istri atau anak harus bersaing melawan wakil kepala daerah incumbent. "Lihat saja pada pilkada Kepulauan Riau, pemenangnya adalah Wakil Gubernur HM Sani," kata Burhan. Di Sidoarjo dan Sukoharjo juga begitu, katanya.
Salah siapa
Burhan sendiri menilai, fenomena ini tidak bisa ditimpakan kesalahannya pada rakyat yang memilih. Problemnya justru berada pada partai politik yang gagal melakukan kaderisasi atau rekrutmen calon-calon pemimpin yang memiliki kemampuan.
"Akhirnya, partai cenderung mengambil jalan pintas, mendukung calon yang populer padahal belum tentu memiliki kompetensi," kata Burhan. Dan popularitas, sekali lagi, dimiliki incumbent dan keluarganya.
