Menelusuri Jejak Hitam Kuburan Massal Tragedi 1965

Ilustrasi/Kuburan pembantaian massal
Sumber :
  • AP Photo/ Amel Emric

VoxPop.co.id – Ratusan orang berkumpul di sebuah pabrik padi di belantara Kaliwungu Kendal Jawa Tengah. Malam itu, di waktu yang sudah tak diingat Sudirman. Ia diangkut paksa dengan sebuah truk sampah ke sebuah hutan di Dusun Plombon Wonosari.

img_title Aktivis KNPI Kenang Sosok Isa Hasanda, Pelukis Lekra Tapol Orde Baru

"Malam itu ratusan orang dikumpulkan dan diperiksa. Yang akan ditembak dijejer-jejer (berbaris). Saya salah satunya," kata Sudirman mengenang tragedi pembantaian massal pada tahun 1965.

Sudirman mengingat betul bagaimana mencekamnya hari itu. Hujan yang gerimis dan lubang kubur yang sudah disiapkan menjadi 'hantu' kenangan di kepalanya.

img_title Kejagung Inventarisir 13 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

"Saya menyaksikan teman-teman perjuangan saya ditembaki berkali-kali di badan," tutur Sudirman dengan mata berkaca-kaca.

Malam itu, Sudirman menghitung sudah ada 28 orang yang meninggal ditembaki. Darah menggenang dan setiap yang mati dengan sendirinya bergelimpangan di lubang yang telah disiapkan.

img_title Ma'ruf Amin Condong Jalur Islah untuk Selesaikan Kasus HAM Masa Lalu

Desing peluru dan aroma mesiu mencekat hidung. Sudirman bergidik dan gemetar hebat di barisan. Lalu, ketika tiba gilirannya. Letupan peluru mendadak berhenti. Rupanya, Tuhan berpihak kepada pria yang mengaku waktu ditangkap masih berusia 34 tahun tersebut.

http://media.voxpop.id/thumbs2/2015/06/01/316743_mbah-sudirman--84--_663_382.jpg

FOTO: Sudirman (84), pria yang selamat dari pembantaian massal yang dilakukan militer Indonesia pada tahun 1965.

"Saya selamat karena peluru aparat yang menembaki itu habis. Kemudian saya dibawa lagi ke tahanan di Kendal," kata Sudirman dalam perbincangan dengan VoxPop.co.id tahun lalu.

Tapi sial. Selamat dari pembantaian massal itu tak membuat Sudirman bernasib baik. Ia habis dipukuli selama di penjara. Keluar masuk penjara pun menjadi langganan. Dari lembaga pemasyarakatan Nusakambangan, Kendal hingga Semarang pun dicicipi Sudirman.

Dan kini, berpuluh tahun berlalu. Kenangan kejam itu tak bisa begitu saja lenyap di kepala Sudirman. Apa yang disaksikannya menjadi anyaman sejarah yang kini hendak diberangus. Sudirman menjadi saksi praktik pembunuhan massal yang mengatasnamakan negara.

Memecah Tabu

Setengah abad berjalan. Kisah-kisah di 1965 selalu menjadi isu sensitif di Indonesia. Siapa yang mengungkit itu selalu dikaitkan dengan upaya mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sehingga diskusi atau apa pun yang berkaitan dengan 1965 pasti diburu untuk dicekal, dibubarkan atau ditiadakan. Lewat militer atau pun organisasi masyarakat akhirnya menjadi ujung tombak ampuh menekan siapa pun yang membicarakan tentang 1965.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut