Akhir Eksperimen Siswa Indonesia di Antariksa
- Kemenpora
Prof Sap mengatakan, untuk membiayai misi tim siswa Indonesia, total dibutuhkan dana kurang lebih Rp500 juta. Biaya tersebut termasuk biaya pembekalan pembimbing tim bolak balik dari Indonesia ke San Jose, Amerika Serikat, sebelum memandu siswa untuk membuat eksperimen mereka. Biaya Rp500 juta itu juga termasuk untuk pembelian komponen eksperimen.
Prof Sap yang juga menjabat sebagai direktur eksekutif Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) itu mengatakan, untuk pengiriman eksperimen siswa ke ISS, dia menjaring dukungan dana dari jaringan yang dimiliki.
"Biaya saweran untuk 'ongkos kirim' dari Bumi ke ISS. Sesudah nego jadinya sekitar Rp200 juta untuk satu perangkat eksperimen," tuturnya.
Prof Sap menegaskan, dari biaya saweran tersebut, semuanya dilakukan dan digalang dari dana dalam negeri. Dia memastikan tidak ada bantuan dana dari pihak luar.
"Tidak ada bantuan asing," katanya.
Terkait dengan dana untuk peluncuran dan eksperimen itu, Dimyati mengakui memang Kemenristekdikti pada tahap itu tidak mendukung dana sepeser pun. Alasannya, pertama, riset tersebut dilakukan para siswa yang bukan menjadi ranah kementeriannya.
"Kalau itu lebih tepatnya di Kemendikbud. Kami ini kategori pendidikan tinggi dan masyarakat umum ya," kata dia.
Alasan selanjutnya, menurut Dimyati, eksperimen siswa itu bisa terbang ke antariksa karena memenangi sebuah perlombaan dan penawaran. Karena menang dalam sebuah kompetisi, maka penyelenggara sudah mendukung penuh semua akomodasi eksperimen itu.
"Itu kan dari open bidding ya, Jadi, kami enggak share (dana) apa-apa. Mereka kan ikut lomba dan menang, karena memang semuanya sudah include (akomodasi dan biaya)" kata dia.
Namun demikian, Dimyati mengatakan sah-sah saja, mentor dan pembimbing tim siswa itu mencari dukungan dana di dalam negeri. "Bahwa ada bantuan yang bersifat pribadi untuk itu memang ada," katanya.
