Waspada, Jebakan Perang Diskon Jelang Lebaran
- VoxPopnews/Muhamad Solihin
Omzet Triliunan
Tak tanggung-tanggung, sepanjang Ramadan tahun ini Aprindo menargetkan penjualan hingga Rp200 triliun, atau 35-40 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Dengan demikian, omzet maksimal yang dapat diperoleh peritel baik di bidang makanan dan dan di luar makanan pada bulan ini sekitar Rp70-80 triliun.
Roy melihat daya beli di pasar ritel saat ini mengalami kondisi yang lebih baik. Hal tersebut dipengaruhi turunnya BI rate, bunga pinjaman, harga energi, dan adanya deregulasi nyata di lapangan yang pro terhadap perekonomian pasar.
"Semua itu memberikan dampak psikologis terhadap masyarakat untuk kembali berbelanja ke ritel," kata Roy.
Menurutnya, pada tahun lalu daya beli masyarakat atau penjualan di pasar retail mengalami penurunan, karena kecenderungan regulasi dan tarif moneter kurang bersahabat untuk para pelaku usaha dan berdampak pada konsumen.
"Penurunan daya beli masyarakat khususnya tahun lalu, tapi tahun ini sudah mulai recovery kok. Kita bicara sekitar April-Mei, karena akhir Februari keadaan kita masih jelek," jelas Roy.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengingatkan para konsumen agar tidak terjebak perang diskon. Utamanya, produk yang masuk dalam kategori fashion.
"Tetap waspada, karena ada barang-barang yang cacat produksi. Selain itu, ada juga yang didiskon 50 persen, tetapi ternyata barangnya sudah ada sejak tiga tahun lalu. Artinya sudah usang dan tidak layak pakai," kata Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, saat berbincang dengan VoxPop.co.id.
Selain produk fashion, Tulus menjelaskan, diskon untuk jenis barang makanan dan minuman pun menjadi produk lainnya yang harus diwaspadai. Sebab, ada kecenderungan produk yang masuk dalam kategori tersebut justru sudah mendekati masa tenggat waktu kedaluwarsa.
Maka dari itu, dia berharap, para konsumen tidak terlena begitu saja dengan diskon miring yang diberikan oleh para pengusaha maupun pusat-pusat perbelanjaan.
Aspek kehati-hatian harus menjadi landasan utama konsumen, agar tidak menyesal.
"Biasanya ada yang cuci gudang karena dia sudah mau mendekati tanggal kedaluwarsa. Konsumen juga harus hati-hati," katanya.
Ancaman denda Rp5 miliar
