Pergantian Kepala BIN, Regenerasi atau Politik Akomodasi?

Wakil Kepala Kepolisian RI, Komjen Pol Budi Gunawan.
Sumber :
  • VoxPopnews/Ikhwan Yanuar

VoxPop.co.id – Berselang setahun memimpin Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso diganti. Presiden Jokowi mengajukan nama Budi Gunawan sebagai calon kepala badan telik sandi negara ini. Istana menyebut keputusan Jokowi demi regenerasi, namun ada pula yang menilai hal tersebut sebagai politik akomodasi.

img_title Kepala BIN Diusulkan Dijabat Sipil, Figur Suhendra Hadikuntono Mencuat

Surat penggantian Kepala BIN akhirnya sampai ke tangan DPR. Setelah sebelumnya rumor dan informasi soal pencopotan tersebut berembus kencang sejak dua pekan sebelum nama Budi Gunawan (BG) diajukan ke Senayan.

Sumber VoxPop.co.id, sebagaimana diberitakan pada 23 Agustus 2016 yang merupakan mantan anggota DPR dan diketahui orang dekat BG sempat membocorkan hal tersebut. Bahkan surat pengajuan nama BG disebutkan bakal dikirim ke legislatif pada pekan terakhir di bulan Agustus.

img_title Susunan Pengurus Dewan Masjid Indonesia 2017-2022

Jumat pagi, 2 September 2016, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Pratikno, tiba-tiba mendatangi pimpinan DPR. Dia membawa mandat Presiden menyampaikan surat berisi nama Wakapolri Komjen Polisi Budi Gunawan (BG). Menurut Pratikno, tak ada alasan khusus penggantian Bang Yos, sapaan Sutiyoso. Jokowi, kata dia, hanya ingin adanya regenerasi, semacam penyegaran di badan intelijen.

“Itu regenerasi biasa saja. Argumentasinya regenerasi saja,” kata Pratikno sebagaimana diberitakan VoxPop.co.id, Jumat 2 September 2016.

img_title Kepala BIN Jadi Dewan Pakar Masjid Indonesia

Dia menampik bahwa pencopotan Bang Yos karena mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut dinilai minus performanya. Presiden diingatkannya memiliki hak prerogatif mengganti kepala badan yang langsung dibawahinya tersebut. Sesuai Undang Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, tak disebutkan adanya periodisasi  jabatan kepala BIN.

Ihwal regenerasi, usia Bang Yos memang cukup terpaut jauh bila dibandingkan dengan BG. Pria tersebut kini berumur 71 tahun sementara BG 56 tahun. Oleh karena itu alasan perlunya penyegaran pemimpin BIN dinilai masuk akal. Direktur Program Imparsial, Al Araf, menilai usia adalah pertimbangan penting untuk memilih pemimpin lembaga telik sandi itu.

“Dalam perspektif itu saya pikir pergantian ini sah-sah saja mengingat posisi Beliau (Sutiyoso) sudah berumur,” kata Al Araf saat dihubungi VoxPop.co.id.

Al Araf mengatakan kinerja Sutiyoso belakangan banyak disorot, termasuk adanya aksi teror dari jejaring terorisme di Indonesia.
 
“Dalam beberapa hal tidak terlalu menampakkan satu kerja yang efektif. Pada akhirnya Presiden yang memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi dan pergantian,” lanjutnya.
 
Dihubungi secara terpisah, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Idil Akbar, menyoroti kecolongan BIN yang belakangan terjadi. Dia menyinggung peran intelijen yang dipertanyakan saat Presiden Jokowi kebobolan memilih Arcandra Tahar, seorang yang ternyata warga negara Amerika Serikat menjadi menteri di Kabinet Kerja.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut