Memburu Penyebar Isu Rush Money
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
Lagi pula, lanjut mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut, apabila kabar itu merusak pondasi perekonomian yang dibangun pemerintah, kaum kelas menengah ke bawah, yang justru akan paling pertama dan terasa dampaknya. Hal ini yang tidak diinginkan oleh semua pihak termasuk oleh pemerintah.
"Karena, mereka kelompok vulnerable (rentan), dan kami sangat-sangat peduli dengan kerentanan masyarakat kecil, bila tidak ada kestabilan," katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D Hadad, mengungkapkan secara fundamental industri keuangan nasional dalam keadaan yang sehat. Sehingga kondisi penarikan dana besar-besaran sulit terjadi bila persoalan tersebut tidak menyangkut kinerja keuangan negara.
Untuk itu, Muliaman sangat meyakini isu gerakan penarikan uang secara besar-besaran atau yang dikenal dengan istilah rush money pada 25 November 2016 mendatang tidak akan terjadi.
Senada dengan pemerintah, Ekonom CReco Research Institute, Raden Pardede mengungkapkan upaya rush money yang hembuskan di media sosial saat ini jelas tindakan tidak bertanggung jawab, yang bisa membuat chaos (rusuh) ekonomi Indonesia yang seterusnya memiliki maksud jahat dalam politik.
Dia menilai, dengan kondisi saat ini di sistem perekonomian Indonesia, sebenarnya tak ada alasan sedikit pun rush money bisa terjadi dalam waktu dekat. "Tak ada data dan alasan apa pun secara ekonomi yang mendukung rush money ini terjadi," tegas Raden kepada VoxPop.co.id.
Janji Pelaku Usaha
Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Rosan Perkasa Roeslani menyangsikan upaya rush money itu terjadi di Indonesia pada 25 November 2016 mendatang. Sebab, Kadin telah mengimbau para para pengusaha anggotanya untuk tidak melakukan hal yang merugikan pribadi maupun negara.
Selain itu, Kadin juga telah meminta kepada para investor dari dalam dan luar negeri untuk tetap berinvestasi dan melakukan ekspansi bisnis di Tanah Air, terlebih saat ini Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di dunia.
"Karena, saya pun terus aktif bicara dengan investor asing yang sudah investasi di sini. Saya sudah datangi satu-satu dan mereka saya undang. Kepada para pengusaha nasional yang sudah investasi besar, mereka rencana tetap ekspansi, karena demo kan di Jakarta, pabriknya bukan di Jakarta," tuturnya.
