Bahrun Naim, Bom dan Perempuan
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
7. November
* 1 November, ledakan bom rakitan di Bantul Yogyakarta. Bom ini berisi paku dan logam berkarat
* 13 November, ledakan bom di Gereja Oikumene Samarinda Kalimanta Timur. Seorang bocah berusia 2,5 tahun tewas. Pelaku adalah terpidana teroris kasus bom buku tahun 2011
* 14 November, pelemparan bom molotov di Vihara Singkawang Kalimantan Barat
* 23 November, penangkapan kelompok teroris Majalengka. Kelompok ini dikenal piawai membuat bom. Rakitan mereka, dari penggeledahan polisi ternyata bisa memiliki kekuatan tiga kali lebih dahsyat dari bom Bali pada tahun 2002 yang menewaskan 200 orang.
8. Desember
Penangkapan perempuan calon pelaku bom bunuh diri di kawasan istana negara. Ia direncanakan akan membawa bom dengan berat tiga kilogram.
Perempuan Pengebom
Di ujung tahun 2016, seorang perempuan berhijab bernama DYN (27) asal Cirebon tertangkap di Bekasi Jawa Barat. Ia diamankan di sebuah rumah kost bersama barang bukti berupa bom seberat tiga kilogram siap meledak.
Rencananya bom ini akan diledakkan di kawasan Istana Negara pada Minggu, 11 Desember 2016.
Kabar ini jelas mengejutkan. Ini menjadi fenomena pertama di Indonesia dalam dunia terorisme bahwa ada perempuan yang siap mati untuk meledakkan dirinya.
DYN, mantan tenaga kerja wanita ini kabarnya merupakan istri kedua dari seorang pria yang masih dirahasiakan identitasnya. Keberhasilan penangkapan DYN ini patut diapresiasi. Sebab ini menjadi rujukan bahwa tidak selamanya aksi teror bom dilakukan oleh pria.
"Ya, hal baru," kata pengamat terorisme Indonesia Sidney Jones.
FOTO: DYN, terduga eksekutor bom bunuh diri yang tertangkap di Bekasi Jawa Barat, Sabtu (10/12/2016)
Menurut Sidney, penggunaan perempuan sebagai pelaku teror. Dianggap menguntungkan kelompok teroris. Sebab umumnya perempuan tak dicurigai polisi. "Jadi lebih gampang mengelabui petugas keamanan. Mereka (juga bisa) mengunjungi tahanan teroris di penjara tanpa diperiksa terlalu ketat," kata Sidney.
Karena itulah, diduga kuat kelompok terorisme di Indonesia melihat peluang itu. Ditambah lagi di ISIS, kini para kelompok perempuan juga sedang mengambil tempat untuk bisa berperan lebih aktif dalam pergerakan.
"Perempuan ISIS ingin mendapatkan peranan lebih aktif daripada sebelumnya dibanding laki-laki," kata Sidney.
