Bahrun Naim, Bom dan Perempuan
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
Sementara itu, kepolisian menyangkal jika perempuan kini telah mengambil peranan dalam aksi teror di Indonesia. Dalih polisi, bahwa yang dilakukan DYN tak lebih karena ia telah siap untuk mati.
"Pada intinya mereka mencari orang yang mau beramaliah dan berjihad. Kebetulan kali ini perempuan," kata Kabag Mitra Biro Penerangan masyarakat Polri Kombes Pol Awi Setiyono.
Sejauh ini, sejak terbongkarnya rencana bom bunuh diri yang dilakukan DYN, kepolisian masih terus mendalami kelompok lain yang berada di belakang mereka. Nama Bahrun Naim pun tetap menjadi aktor utama di balik serangan teror bom di Indonesia.
Grup pro ISIS Indonesia
1. Jamaah Anshorut Tauhid (2008), pendiri Abu Bakar Baasyir, lalu pecah menjadi Jamaah Anshorut Syariah
2. Mujahidin Indonesia Timur (2011) dipimpin Santoso alias Abu Wardah al Syarqi, menaungi perekrutan Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat (BIMA) dan Kalimantan Timur
3. Jamaah Tauhid wal Jihad (2004) Aman Abdurrahman alias Oman Rochman
4. Ring Banten pecahan dari Darul Islam (1999) pimpinan Rois alias Iwan Dharmawan
5. Gema Salam-Gerakan Mahasiswa untuk Syariat Islam (2013), digagas Aman Abdurrahman
6. Mujahidin Indonesia Barat (2012), dipimpin oleh Abu Jandal
7. FAKSI-Forum Aktivis Syariat Islam (2013), dibentuk Muhammad Fachry atau Tuah Febriwansyah dan Bahrum Syah fungsi doktrin dan pengajaran di media internet
Sumber: USAID: Indonesian and Malaysian Support For The Islamic State (Final Report)-Januari 2016
Apa pun itu, fakta bahwa ISIS telah menunjukkan kekuatannnya di Indonesia telah makin nyata. Nyaris di beberapa tempat vital telah menjadi incaran kelompok radikal ini.
Dan tentunya, fakta lain bahwa lebih dari 500 orang Indonesia telah berangkat ke Suriah untuk bergabung ke ISIS tak bisa dibantah. Kepulangan mereka ke Indonesia tentu akan menjadi momok baru. Belum lagi dilaporkan ada belasan narapidana terorisme akan bebas dalam waktu dekat karena masa tahanan mereka telah habis.
FOTO: Abu Bakar Ba’asyir, terpidana teroris Indonesia yang mendirikan Jamaah Ansharut Daulah dan telah berbaiat ke ISIS
Kondisi ini makin pelik dengan membanjirnya media sosial yang terbukti menjadi salah satu alat koordinasi dan komunikasi kelompok radikal. Jelas ini bukan perkara mudah. Mayoritas muslim Indonesia menjadi rumah empuk untuk pembentukan calon pelaku-pelaku teror jika tak diakali dengan kuat.
