Rolls-Royce 'Setrum' PLN
- Istimewa
"Kami sangat mendorong KPK untuk terus bergerak menelisik dugaan korupsi di BUMN-BUMN yang merugi," kata Teguh.
KPK yang masih fokus menangani kasus suap jual-beli mesin dan pesawat untuk Garuda Indonesia dengan tersangka Emirsyah Satar, menyatakan telah menerima banyak dokumen dari SFO. Termasuk mengenai dugaan suap Rolls-Royce kepada pejabat PLN.
Namun, sampai saat ini, lembaga antirasuah itu masih mempelajari kasusnya. "Sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, kami (KPK) mendapat informasi banyak dari SFO dan CPIB (lembaga antikorupsi Singapura). Kami sedang pelajari lebih lanjut," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di kantornya, Senin, 23 Januari 2017.
Sebelumnya, usai penetapan Emirsyah Satar sebagai tersangka suap, Ketua KPK, Agus Rahardjo, mengultimatum para penyelenggara negara di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar tidak coba-coba melakukan praktik korupsi.
Sebab, KPK juga bisa mengendusnya, meskipun suap itu dilakukan di luar negeri. "Karena kami bisa mengendus dan bisa membuktikan semua," kata Agus Rahardjo.
Agus menjelaskan, pihaknya telah bekerja sama dengan lembaga antikorupsi di negara lain. Karena itu, mudah bagi KPK untuk mengusut kasus korupsi yang bersifat transnasional atau lintas negara.
PLN Siap Bekerja Sama
PT PLN sendiri belum mengetahui secara utuh kasus suap yang diduga melibatkan sejumlah pejabatnya. Dikonfirmasi, Kepala Satuan Unit Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka, mengatakan pihaknya akan mengumpulkan seluruh informasi.
"Ya, memang sudah banyak dari pemberitaan. Kami menunggu saja, sambil saya masih mencari informasi dulu, sejauh mana. Jadi (mencari) informasi di internal, apa ada kebenaran seperti itu, seperti (pemberitaan) di luar itu," kata I Made kepada VoxPop.co.id, Senin, 23 Januari 2017.
Meski begitu, I Made menegaskan, pihaknya tetap tunduk kepada hukum, jika Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan penyidikan terhadap kasus ini. PLN siap bekerja sama dengan baik.
"Kalau ada penyidikan, silakan berjalan dulu, supaya kita tidak mendahului dulu. Kami tetap tunduk. Kalau sudah waktunya kita bikin konferensi pers," kata I Made. (one)
