Waktu Salat Subuh di Indonesia Dinilai Terlalu Cepat? Begini Penjelasan Kemenag
- VoxPop/Dedy Priatmojo
Ia menegaskan bahwa Kemenag tidak pernah menutup ruang dialog ilmiah. Semua dokumen pengamatan, foto, data lapangan, serta hasil uji tim tersedia untuk dikaji para peneliti falak maupun ormas Islam.
Sementara terkait tuduhan manipulasi data, kata Arsad, bertentangan dengan fakta dokumentasi yang telah dipublikasikan.
"Seluruh proses dilakukan dengan kehati-hatian, akuntabilitas, dan keterbukaan. Negara tidak berkepentingan apa pun selain memastikan ibadah umat terlaksana dengan benar," tegasnya
Menurut Arsad, perbedaan penentuan derajat di kalangan peneliti maupun ormas Islam sejatinya adalah bagian dari dinamika ijtihad ilmiah yang wajar. "Ada yang mendapatkan –18°, ada yang –12° atau –13°. Perbedaan itu harus dihargai sebagai ikhtiar keilmuan. Namun negara perlu mengambil satu keputusan yang memberi kepastian hukum dan ketenangan beribadah. Keputusan tersebut kami ambil berdasarkan data empiris lokal dan kajian fikih yang mendalam," jelasnya.
Lebih jauh ia menegaskan bahwa Kemenag menjaga keseimbangan antara kepastian hukum fikih dan ketelitian ilmiah. "Dua aspek ini berjalan bersama. Kita ingin umat melaksanakan Subuh pada waktu yang sah secara syar’i dan valid secara astronomi," imbuhnya.
Metode Verifikasi Fajar
Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag, Ismail Fahmi, menjelaskan secara teknis metode verifikasi fajar yang digunakan timnya. Observasi tidak hanya mengandalkan pengamatan visual, tetapi juga kamera sensitif cahaya rendah, analisis fotometri, serta pembacaan kurva intensitas cahaya yang kemudian dikorelasikan dengan posisi astronomis Matahari.
"Kami memastikan cahaya yang dilihat benar-benar Fajar Shadiq, bukan pantulan cahaya, polusi cahaya, atau zodiacal light," katanya.
Ismail menjelaskan bahwa polusi cahaya di perkotaan menjadi tantangan besar dalam mendeteksi fajar. Karena itu, persoalan teknis tersebut diatasi dengan memilih lokasi berpengamatan yang lebih murni, seperti pesisir, area dataran tinggi, dan kawasan dengan cakrawala timur terbuka.
"Inilah sebabnya standar global tidak bisa langsung dipindahkan ke konteks tropis tanpa pengujian berlapis," tegasnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tim Hisab Rukyat telah melakukan pengamatan berulang di Labuan Bajo, Jombang, Riau, Sulawesi Selatan, dan berbagai titik lain. Hasilnya konsisten: kemunculan cahaya Fajar Shadiq berada di derajat Matahari sekitar –19° hingga –20°.
