Waktu Salat Subuh di Indonesia Dinilai Terlalu Cepat? Begini Penjelasan Kemenag
- VoxPop/Dedy Priatmojo
"Kami lakukan di berbagai musim, berbagai kondisi cuaca, dan hasilnya stabil. Ini yang menjadi dasar ilmiah kenapa Indonesia menggunakan angka tersebut," jelasnya.
Ia juga membantah tuduhan manipulasi data yang berkembang di ruang digital. Seluruh dokumentasi observasi telah dipaparkan dalam forum resmi bersama para pakar astronomi, ormas Islam, dan lembaga pendidikan tinggi. "Semua ada rekamannya, transparan, dan tidak ada yang ditutup-tutupi," tegasnya.
Ismail menambahkan, sebagaimana kaidah fikih dan tradisi keilmuan falak, standar hisab dapat berkembang seiring kemajuan teknologi dan pemahaman ilmiah. "Jika kelak muncul instrumen baru yang lebih presisi dan teruji secara akademik, tentu bisa menjadi bahan evaluasi. Namun perubahan harus mengikuti kaidah ilmiah yang ketat, bukan klaim perorangan," ujarnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa kepastian waktu ibadah merupakan kebutuhan publik yang harus dijaga. “Kemenag bekerja dengan prinsip kehati-hatian ilmiah, kolektifitas ijtihad, dan akuntabilitas data. Tujuannya satu: memastikan umat beribadah dengan tenang dan yakin,” pungkasnya
