Mulai Tayang di Bioskop, Ini Cerita Film The Science of Fictions

Para pemain Film The Science of Fictions
Sumber :
  • Instagaram @asmaraabigail

VoxPop – Film The Science of Fictions tayang di bioskop nasional mulai tayang 10 Desember 2020. Film itu tayang pertama kali pada Locarno Film Festival 2019 di Swiss, kemudian berkeliling ke-15 festival film internasional.

img_title JMFF 2026 Dibuka, Industri Film Indonesia Didorong Naik Kelas ke Level Global

Film yang disutradarai dan ditulis oleh Yosep Anggi Noen ini dibintangi oleh Gunawan Maryanto, Ecky Lamoh, Yudi Ahmad Tajudin, Lukman Sardi, Rusini, Asmara Abigail, Alex Suhendra, dan Marissa Anita. Deretan penghargaan telah didapatkan oleh The Science of Fictions. 

Film ini juga baru saja memenangkan Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik yang diberikan kepada Gunawan Maryanto. Di tempat pemutaran perdananya, film ini diberi Special Mention, 72 Locarno Film Festival, dan Concorso Internazionale 2019.

img_title Kisah Cinta Ibu dan Anak Berlanjut, Air Mata di Ujung Sajadah 2 Hadirkan Dilema Cinta Seorang Ibu

The Science of Fictions dimulai kisahnya pada tahun 1960-an, di Gumuk Pasir Parangkusumo, Yogyakarta. Siman yang diperankan oleh Gunawan Maryanto, melihat proses shooting pendaratan manusia di bulan oleh kru asing.

Dia tertangkap penjaga dan dipotong lidahnya. Selama puluhan tahun, Siman bergerak pelan menirukan gerakan astronot di luar angkasa untuk membuktikan kebenaran pengalamannya. Sampai akhirnya Siman dianggap gila.

img_title Resmi Tayang Hari Ini, “Air Mata di Ujung Sajadah 2” Siap Hadirkan Kisah Dua Kali Lebih Menyayat Hati

Mau tahu lebih jauh mengenai cerita film ini, baca kelanjutannya.

Film The Science of Fictions menjanjikan sebuah eksplorasi visual dan penceritaan yang berbeda dari film-film lainnya. Pengalaman sinema ini makin nikmat, jika dirasakan di bioskop.

Dalam film ini, Yosep Anggi Noen yang dalam film ini berkolaborasi bersama sinematografer Teoh Gay Hian menjelaskan, bahwa film ini adalah kisah tentang manusia yang bergerak pelan. Jadi, ada pembicaraan tentang bagaimana seharusnya kamera merekam gerak Siman.

"Film ini direkam dengan banyak jenis kamera, yakni kamera HD, handycam, GoPro, kamera slowspeed, dan drone. Kami juga menunjukkan berbagai jenis kamera di layar, termasuk roll film 16 milimeter," jelas Anggi, Jumat 11 Desember 2020.

Menurut Anggi, konsep ini dirancang sebagai bentuk 'main-main' untuk menunjukkan lintasan teknologi audio visual, yang aksesnya saat ini semakin mudah, ada di setiap tangan manusia, lekat dengan tubuh dan semakin personal.

"Bagi saya di jaman dulu, produksi moving image hanya bisa dilakukan oleh pihak yang punya kuasa. Itu yang mengakibatkan bukti-bukti sejarah seolah hanya bisa dikeluarkan oleh otoritas dan penguasa, serta cenderung propaganda," ungkapnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut