Mulai Tayang di Bioskop, Ini Cerita Film The Science of Fictions
- Instagaram @asmaraabigail
Saat ini, sejarah ditulis oleh masing-masing manusia, lalu ujian berikutnya adalah soal kebenaran, yakni rekaman siapa yang benar-benar benar. Begini kata sang sutradara.
"Tapi kami bicara ngalor-ngidul sambil ketawa-ketiwi soal konsep-konsep yang nampak rumit ini," ujar Anggi.
Inspirasi pembuatan film ini datang kepada Yosep Anggi Noen ketika ia melihat sebuah lahan yang mirip dengan permukaan bulan di Parangkusumo, Bantul. Lahan bernama Gumuk Pasir itu memikat sekali secara visual dan lingkungan di sekitar Gumuk jugan menarik baginya. Ada karaoke murahan, ada lokasi manasik haji, ada lokasi tempat persembahan kepada Ratu Laut Selatan, dan ada tempat ibadah, bahkan pada waktu-waktu tertentu ada praktek prostitusi terselubung di sana.
"Saat saya menemukan betapa hiruk-pikuknya sebuah tempat tersebut, saya tergelitik juga untuk mengemas cerita di sana. Saya lalu berangkat dari bulan, bagaimana jika pendaratan manusia di bulan itu ternyata pengambilan gambarnya dilakukan di Gumuk Pasir," urainya.
Ia kemudian menghubungkan dengan konteks politik di Indonesia tahun 60-an, yang sampai saat ini diketahui ada ruang gelap sejarah saat perpindahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto yang berdarah-darah sekaligus manipulatif. Pendaratan di bulan sebagai keberhasilan yang dirayakan secara global dan politik yang manipulatif disaksikan oleh Siman, seorang petani biasa, dan manusia yang sederhana yang dibisukan.
Produser Film The Science of Fictions Yulia Evina Bhara mengatakan, ketika disodorkan konsep dan cerita, ia tak ragu dan langsung bersedia terlibat. Pertama, karena cerita Siman buat saya sangat sangat relate dengan kehidupan sehari-hari, dan di saat yang sama juga ia merasa cara tutur film ini belum pernah ditemukan di film Indonesia yang lain.
"Sebuah tantangan berat karena tokoh utama tidak ada dialog selama film, tapi saya yakin dengan visi artistic Anggi dan Gunawan Maryanto yang pasti akan menghidupkan Siman. Yang paling menarik dari film ini untuk film Indonesia adalah film ini memberikan perbendaharaan baru dan cara tutur sinema yang berbeda," kata Yulia.
