Cerita Umi Pipik Kepalanya Terinjak-injak Saat Sujud di Tanah Suci, Nyaris Meninggal
- Dokumentasi Wwiek Muslimah
"Itu kepala saya itu diinjak-injak. Saya udah bilang 'Ya Allah saya mati nih di sini nih' itu saya langsung Istighfar langsung nangis senangis-nangisnya," tambahnya.
Dalam keadaan itu, Umi Pipik menangis berdoa meminta petunjuk. Sampai akhirnya ia mendengar suara. "Saya nangis senangis-nangisnya. Udah ngebayang 'Oh ini kayaknya hari ini hari terakhir saya nih' gak bisa bangun jeduk lagi, gak bisa bangun jeduk lagi," kata Umi Pipik.
"Sampai akhirnya, entah gak ngerti kayak ada suara yang 'Kamu siapa?'," kata Umi Pipik. "Saya gak kepengin ya Allah, saya di dunia dikenal orang tapi di akhirat engkau gak kenal saya. Itu saya nyesek banget. Begitu ada suara begitu saya sakit banget," tambahnya.
Umi Pipik menangis istighfar berdoa minta petunjuk. Ia kembali mendengar suara, kali ini suara perintah menutup. Umi Pipik awalnya tidak mengerti maksud kalimat yang didengarnya itu. Ia kembali berdoa dan istihfar. Sampai akhirnya ia bisa bangkit dari sujud. Kepalanya pun terasa ringan. Saat itu, Umi Pipik tiba-tiba menemukan cadar.
"Udah benar-benar kayak ini nyawa tuh udah di deket (kerongkongan) banget. Gelap sampai semua-semuanya gelap. Sampai akhirnya, kayak ada yang bisikin gitu 'Tutup saja sudah. Kapan mau ditutup, tutup saja'. Itu tuh kencang banget di telinga saya, saya gak ngerti maksudnya itu gak ngerti," kata Umi Pipik.
"Sampai terakhir saya bisa bangun, begitu saya begini (angkat kepala) kok enteng ya. Saya langsung bangun. Buru-buru saya salam. Begitu saya mau bangkit, saya nemu cadar. Itu petunjuknya. Saya lihat cadar, ada cadar itu, saya ambil. Saya gak ngerti ya kalau ada orang yang nyari nanti saya kasihin, tapi saya bawa. Selama dari Masjid sampai hotel gak ada yang nyari," tambahnya.
Umi Pipik merasa itu jadi petunjuk, ia merenung berpikir sampai akhirnya memutuskan memakai nikab. Keputusan itu didukung oleh anak-anak Umi Pipik.
