BNI Agresif Salurkan Pembiayaan Hijau

Gedung BNI di Jakarta
Sumber :
  • Dok. BNI

VoxPop – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (kode saham: BBNI) serius memperkuat bisnisnya ke arah compliance terhadap upaya-upaya bersama serta mengglobal dalam melindungi lingkungan hidup.

img_title MyPertamina Tebar Produk UMKM Binaan Gratis di GIIAS 2026

Pertimbangan compliance terhadap ketentuan regulator, terhadap upaya perlindungan lingkungan hidup, hingga pada ketentuan internal tanpa meninggalkan pertimbangan bisnis itu membuat BNI bertahan sekaligus terus melakukan ekspansi berkualitas hingga saat ini.

"Sebagai pelopor dari green banking, kami terus mencari peluang ekspansi segmen hijau sambil proaktif mengajak nasabah dan investor untuk lebih tertarik pada pengembangan segmen ekonomi berkelanjutan ini," ujar Mucharom sambil menjawab keraguan sebagian pihak atas komitmen BNI dalam menegakan nilai kehati-hatian.

img_title BNI Catat Laba Bersih Rp10,8 Triliun Semester I-2026, Kredit Tumbuh 24,4 Persen

Adapaun, sejak Januari hingga Maret 2022 cukup agresif mengucurkan pembiayaan hijau ke berbagai segmen. Hal tersebut terlihat dari portofolio hijau BNI (bank only) per Maret 2022 yang mencapai Rp 170,5 triliun, tumbuh 21,8% secara tahunan (year on year/yoy).

Mucharom memaparkan nilai portofolio hijau tersebut setara dengan 28,9% dari total portofolio kredit perseroan. Dari jumlah tersebut mayoritas adalah kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

img_title Mengupas Aplikasi Transformasi Digital UMKM, Inovasi yang Membantu Pelaku Usaha Bertahan di Tengah Persaingan

“Portofolio hijau kami cukup ekspansif, awal tahun ini pertumbuhannya 21,8%. Penopangnya yaitu terbanyak dari kredit di UMKM dan ini dikarenakan program pendampingan yang dilakukan BNI memberikan dampak positif ke ekosistem masyarakat,” katanya.

Dia merinci, pembiayaan untuk UMKM dan pemberdayaan sosial ekonomi memiliki porsi terbesar yakni mencapai Rp 115,2 triliun. Kemudian, pengelolaan sumber daya alam hayati dan tata guna lahan yang berkelanjutan sebesar Rp 14,9 triliun, pembiayaan ke sektor energi baru terbarukan (EBT) senilai Rp 10,3 triliun. Berikutnya, pembiayaan untuk pencegahan polusi senilai Rp 6,8 triliun, dan pembiayaan hijau lainnya Rp 23,3 triliun.

“BNI juga aktif menjalin kerja sama dengan debitur energi baru terbarukan (EBT) dan pencegahan polusi. Eksposur pembiayaan EBT ini Rp 10,3 triliun dan Rp 6,3 triliun untuk pencegahan polusi. Pembiayaan untuk pengolahan air bersih dan pengelolaan limbah mencapai Rp 23,3 triliun,” jelasnya.

Mucharom berpendapat energi fosil memang masih dibutuhkan masyarakat Indonesia. Namun, BNI sebagai bagian dari perkembangan EBT akan meningkatkan portofolio pembiayaan hijaunya. Karena BNI merupakan pioneer geen banking, sehingga perbaikan infrastruktur energi dan lingkungan masih perlu ditingkatkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut