Analisis Psikologi Mengapa Fans Manchester United Begitu Setia: Cinta Fanatik yang Bertahan di Tengah Kekalahan

Logo klub pada jersey Manchester United.
Sumber :
  • Twitter

Jakarta, VoxPop – Hampir setiap orang pasti punya teman atau keluarga yang fanatik terhadap Manchester United (MU). Mereka hafal sejarah klub, koleksi jerseynya tak terhitung, dan suasana hatinya bisa berubah total hanya karena satu hasil pertandingan.

img_title Bursa Transfer Manchester United: Juventus Bersedia Lepas Francisco Conceicao ke MU Asal Ditukar Joshua Zirkzee?

Tapi kenapa seseorang bisa begitu setia, bahkan saat tim kesayangannya sedang terpuruk?

Fenomena ini ternyata punya penjelasan ilmiah. Dari sisi psikologi, loyalitas terhadap klub seperti Manchester United bukan sekadar kesukaan terhadap olahraga, melainkan hasil dari kombinasi faktor biologis, sosial, dan budaya yang kompleks.

img_title Michael Carrick Inginkan Francisco Conceicao di Manchester United, Juventus Minta Segini

Pemain Manchester United

Photo :
  • AP Photo/Jon Super

Cinta MU yang “Menular” dari Keluarga

img_title Bursa Transfer Manchester United: Michael Carrick Depak 4 Pemain, Termasuk Marcus Rashford?

Dikutip dari akun Instagram @mesin.gol, penelitian berjudul “Manchester United dan Makna Kesetiaan: Studi Fenomenologi Loyalitas Penggemar Manchester United” yang diterbitkan Universitas Airlangga (UNAIR) menyebutkan bahwa rasa cinta terhadap Manchester United umumnya diturunkan dari keluarga.

Seorang anak yang tumbuh di rumah dengan orang tua penggemar MU akan terbiasa mendengar cerita tentang klub, menonton pertandingannya, hingga ikut merasakan euforia kemenangan.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai social modeling, di mana seseorang meniru perilaku dan minat dari figur penting di sekitarnya. Menurut psikolog olahraga asal Inggris, Dr. Daniel Wann, keterikatan emosional terhadap klub sepak bola biasanya terbentuk di masa kanak-kanak, ketika seseorang sedang mencari identitas sosial.

“Banyak penggemar yang tidak sadar bahwa klub favorit mereka sudah ‘dipilihkan’ sejak kecil oleh lingkungan terdekat,” ujar Wann, dikutip dari American Psychological Association.

Identitas Sosial: Rasa “Kami” dan “Mereka”

Konsep lain yang menjelaskan fanatisme ini datang dari Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel dan John Turner. Dalam teori ini, manusia membangun sebagian besar identitas dirinya melalui kelompok sosial yang diikuti, termasuk klub sepak bola.

Dikutip dari jurnal Social Identity Approach to Sport Psychology, dukungan terhadap klub seperti Manchester United membentuk perasaan kebersamaan dan solidaritas di antara penggemar. Saat seseorang berkata “Kita menang!” atau “Kita kalah!”, dia secara psikologis telah menggabungkan identitas pribadinya dengan tim tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut