Dari Sumedang ke Panggung Asia Tenggara: Sabar Karyaman Gutama Persembahkan Dua Emas SEA Games
- Instagram @badminton.ina
VoxPop – Nama Sabar Karyaman Gutama, yang akrab disapa Iboy, kini menancap kuat dalam jajaran atlet bulu tangkis berprestasi Indonesia. Pebulutangkis asal Kabupaten Sumedang itu tampil gemilang pada SEA Games ke-33 Thailand dan menjadi bagian penting keberhasilan kontingen Merah Putih meraih dua medali emas, masing-masing dari nomor beregu putra dan ganda putra.
Keberhasilan tersebut bukan sekadar catatan prestasi pribadi, tetapi juga mengangkat nama Sumedang ke panggung olahraga Asia Tenggara. Dari daerah, Sabar membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan mampu membawa atlet lokal bersaing dan berjaya di level internasional.
Di atas lapangan, Sabar menunjukkan kematangan permainan yang mencerminkan mental juara. Pukulan presisi, pergerakan tenang, serta kepercayaan diri tinggi menjadi penopang performanya sepanjang turnamen. Medali emas yang diraih pun bukan hasil instan, melainkan buah dari proses panjang penuh disiplin sejak usia muda.
“Medali ini saya persembahkan untuk orang tua, pelatih, dan masyarakat Sumedang. Saya bangga bisa membawa nama daerah ke level internasional. Ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus berprestasi,” ujar Sabar dengan rendah hati usai pertandingan.
Keberhasilan Sabar menegaskan bahwa Sumedang bukan sekadar penonton dalam peta olahraga nasional. Prestasinya menjadi bukti nyata bahwa daerah memiliki potensi besar dalam melahirkan atlet kelas dunia yang mampu berkontribusi bagi Indonesia.
Di balik gemerlap medali emas SEA Games, tersimpan kisah haru keluarga. Sang ayah, Thomas Garlan, mengaku pencapaian putranya berada di luar dugaan. Ia menyebut Sabar dipanggil ke tim nasional secara mendadak, hanya sekitar sepekan sebelum keberangkatan ke Thailand.
“Alhamdulillah, Pak. Jujur ini di luar dugaan. Anak saya dipanggil last minute, kurang lebih seminggu sebelum berangkat. Tapi hasilnya sangat positif. Saya tentu sangat senang dan bangga,” ujar Thomas.
Thomas juga mengungkapkan, sebelum panggilan pelatnas datang, jadwal Sabar sempat bentrok karena rutin memperkuat liga di China setiap tahun. Namun, Sabar memilih mengutamakan panggilan negara meski harus melepas turnamen internasional tersebut.
“Saya bilang ke dia, ini tugas negara, soal nasionalisme. Melepas turnamen di China ternyata membuahkan hasil. Itu keputusan yang sangat tepat,” tuturnya.
