Fenomena Istilah "Healing" yang Viral dan Salah Kaprah

Ilustrasi Liburan
Sumber :
  • Pexels.com

Jakarta, VoxPop – Di era digital seperti sekarang, banyak istilah asing yang masuk ke kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia. Salah satu yang paling populer adalah healing. Awalnya, kata ini berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyembuhan, dan secara konteks merujuk pada proses pemulihan luka emosional, trauma, atau kelelahan mental. Namun di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, maknanya bergeser jauh: "healing" kini identik dengan liburan, staycation, atau sekadar nongkrong di kafe estetik.

img_title Gaji Fantastis tapi Banyak yang Tak Kuat Bertahan! 5 Pekerjaan Bergaji Tinggi Ini Paling Menguras Mental

Bahkan, tidak jarang kita menemukan konten dengan caption seperti “Lelah kerja? Healing dulu ke Bali.” atau “Masalah nggak selesai? Healing dulu ke Puncak.” Padahal, healing dalam konteks psikologi membutuhkan waktu, proses, dan sering kali bantuan profesional — bukan sekadar escape dari rutinitas.

Asal-Usul dan Arti Sebenarnya dari "Healing"

img_title Survei: Mayoritas Warga AS Nilai Trump Tak Layak Pimpin Negara Secara Mental dan Fisik

Bantuan Psikolog dan Psikiater

Photo :
  • pexels.com

Secara definisi, healing merupakan proses penyembuhan baik fisik maupun emosional. Dalam psikologi, healing bisa melibatkan terapi, meditasi, konseling, dan introspeksi diri. Artinya, healing itu tidak selalu tampak dari luar, tapi lebih kepada perbaikan mental dan emosional yang terjadi secara internal dan bertahap.

img_title Hari Healing Sedunia, Ini Cara Simpel yang Ampuh Redakan Stres!

Namun di Indonesia, istilah ini justru mengalami perubahan makna yang ekstrem. Ia kini menjadi justifikasi untuk pelesiran, belanja impulsif, atau self reward yang kadang berlebihan. Akibatnya, banyak orang yang merasa “healing-nya gagal” karena setelah jalan-jalan mahal, masalah hidupnya tetap ada.

Dampak Budaya "Fake Healing" di Media Sosial

  1. Standar Kebahagiaan yang Salah Kaprah
    Media sosial menciptakan ilusi bahwa seseorang harus pergi liburan agar dianggap sedang menyembuhkan diri. Padahal, healing tidak harus mahal atau glamor. Ini menekan individu untuk tampil seolah bahagia, meski sebenarnya sedang terpuruk.
  1. Tekanan Finansial demi "Healing"
    Tak sedikit anak muda yang memaksakan diri melakukan "healing" dengan berhutang, demi konten estetik di Instagram atau TikTok. Hal ini tentu kontraproduktif — bukannya sembuh, justru menambah beban baru berupa masalah keuangan.
  1. Menghindari Introspeksi Diri
    Healing yang sesungguhnya menuntut keberanian menghadapi luka batin. Tapi dengan budaya “healing = liburan”, proses ini justru digantikan dengan pelarian yang bersifat sementara.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut