DPR Bakal Rapat Khusus Bersama Pemerintah Bahas Isu Child Grooming
- DPR RI
Jakarta, VoxPop – Komisi XIII DPR RI menyoroti fenomena child grooming yang belakangan viral di media sosial. Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya menilai kasus tersebut mendapat perhatian serius dan tak bisa dibiarkan tanpa tindak lanjut negara.
Willy memastikan pihaknya akan menggelar rapat khusus untuk membahas maraknya praktik child grooming.
Ilustrasi pelecehan seksual pada anak - Foto Dok Istimewa
- VoxPop.co.id/Muhammad Faidurrahman (Kalsel)
Adapun child grooming adalah istilah untuk tindakan yang dilakukan oleh predator anak untuk membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan anak, dan memanipulasi anak dengan tujuan pelecehan atau eksploitasi seksual.
Hal tersebut disampaikan Willy dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komnas HAM dan Komnas Perempuan pada Kamis, 15 Januari 2026.
“Ini yang Bu Rieke (bahas) tadi mau masuk (dalam kesimpulan rapat), nomor empat soal child grooming? Tindak lanjutnya kita buat rapat bersama saja,” kata Willy dikutip Jumat, 16 Januari 2026.
Ia menegaskan, Komisi XIII akan menindaklanjuti isu tersebut melalui rapat resmi dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
“Kita akan melakukan RDP (Rapat Dengar Pendapat) terhadap child grooming, undang aja beberapa pihak terkait, RDP ya,” ujarnya.
Menurut Willy, isu child grooming ini tidak dapat dibiarkan begitu saja tanpa tindak lanjut dari Pemerintah. Oleh karenanya pembahasan akan difokuskan secara khusus agar penanganannya lebih komprehensif.
“Kita khusus aja Bu Rieke ya? Jadi nanti kita bikin RDPU, bahkan kita bisa juga undang kementerian perempuan dan anak, polisi dan segala macam, jadi kita rapat gabungan aja, khusus dengan child grooming ini, cocok?” ucap Willy.
Sebelumnya, anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka mengangkat fenomena child grooming yang dinilainya selama ini dianggap tabu dan kerap luput dari perhatian negara.
“Kasus yang sedang ramai di medsos adalah child grooming. Child grooming ini adalah sesuatu yang dalam tanda kutip tabu bagi INA selama ini,” kata Rieke.
Ia menyoroti memoar yang ditulis Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings yang menggambarkan bagaimana masa muda seorang anak dihancurkan melalui proses grooming yang sistematis.
