Airbus Jiplak Teknologi Pesawat Boeing?
- Istimewa
Gugatan hukum pun dilayangkan. Walau akhirnya diselesaikan secara damai (Airbus membayar sejumlah kompensasi yang tidak diumumkan), sengketa ini menyisakan pertanyaan besar soal hak kekayaan intelektual dalam industri penerbangan.
Airbus
- Airbus
Evolusi Winglet dari Waktu ke Waktu
Pada 1990-an, harga bahan bakar yang masih rendah membuat efisiensi bukan prioritas utama. Namun pasca tragedi 9/11, harga minyak melonjak drastis. Maskapai pun mulai berburu solusi hemat energi—dan winglet jadi salah satu jawabannya.
Airbus, yang semula merasa cukup dengan wingtip fences, akhirnya menyadari perlunya teknologi baru. Hasilnya: Sharklet hadir tahun 2012, terlambat 12 tahun dari Boeing.
Kini, semua pesawat A320neo sudah dilengkapi Sharklet sejak keluar dari pabrik, dan model lama mulai menjalani retrofit.
Winglet Masa Kini: Bukan Lagi Tambahan, Tapi Standar
Winglet kini sudah menjadi fitur standar di banyak pesawat. Baik Boeing maupun Airbus terus mengembangkan teknologi ini agar semakin efisien. Misalnya, Boeing kini menggunakan desain split scimitar pada 737 dan winglet teknologi canggih di 737 MAX.
Untuk pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747-400, Airbus A330, dan A350, desain winglet-nya pun lebih kompleks—menyesuaikan ukuran dan karakteristik pesawat.
Pesawat Garuda Indonesia Airbus A330-900 Neo
- dok. Airbus
Inovasi yang Tak Pernah Berhenti
Persaingan antara Boeing dan Airbus tak hanya soal penjualan pesawat. Di baliknya, ada persaingan teknologi yang terus memaksa keduanya berinovasi. Bagi maskapai, ini berarti penghematan biaya. Bagi penumpang, perjalanan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Namun, kasus seperti dugaan pencurian desain ini menjadi pengingat penting: inovasi boleh saja dikembangkan, tapi penghormatan terhadap hak cipta dan kolaborasi harus tetap dijunjung tinggi. (aviationa2z)
