Rumah yang Bersahabat untuk Badak, Mungkinkah?

Sungai Cigenter merupakan sungai yang terdapat dalam Pulau Handeuleum, sebuah pulau kecil di gugusan Pulau Taman Nasional Ujung Kulon.
Sumber :

Saat ini badak diklasifikasikan sebagai satwa langka karena keberadaannya yang terancam hilang, dengan kata lain punah. Sedikit sekali lahan yang ideal untuk badak tersebut tinggal, untuk kemudian berkeluarga dan berkembang biak. Salah satunya Taman Nasional Ujung Kulon yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten dan Taman Nasional Bukit Barisan yang berada di Lampung. Upaya konservasi inilah yang menjadi tumpuan badak untuk meningkatkan populasinya.

Namun, yang menjadi kendala ialah Taman Nasional Ujung Kulon mempunyai keterbatasan dengan daya tampung hanya 50 ekor lahan. Jumlah badak yang terbilang stagnan, ditambah periode perkembangbiakan badak betina yang lambat menandakan lahan konservasi Ujung Kulon tersebut telah mencapai batas daya tampungnya.

Kondisi tersebut secara gamblang menandakan Indonesia telah berada di level darurat akan kebutuhan rumah kedua bagi badak yang ideal untuk tinggal dan berkembang biak. Habitat alternatif diperlukan karena semakin terbatasnya lahan vegetasi dan badak sangat rawan terhadap penyakit dan bencana alam yang berpotensi menggerus populasi hewan bercula ini.

Menurut Direktur Konservasi WWF Indonesia Arnold Sitompul, lokasi Taman Nasional Ujung Kulon yang berdekatan dengan anak Gunung Krakatau menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup badak karena statusnya sebagai gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat meletus dan hal tersebut akan melenyapkan eksistensi Badak Jawa dan Badak Sumatera sebagai satwa berharga Indonesia.

Faktor lain, integritas habitat badak bersaing ketat dengan tumbuhnya tanaman masif langkap. Tanaman ini merupakan sejenis tumbuhan palem yang menghalangi sinar matahari menembus bagian bawah hutan dan menghalangi tumbuhnya pangan alami badak. Seperti diketahui, badak menyukai dataran rendah untuk mencari dedaunan dan buah-buahan yang tumbuh rendah. Bisa dibayangkan jika sinar matahari terhalang tentunya dapat memengaruhi perkembangan badak.

Sebagai organisasi konservasi mandiri, WWF Indonesia telah melakukan upaya konsisten untuk membawa populasi badak ke jumlah yang stabil. WWF Indonesia bergandengan tangan dengan pihak Taman Nasional mengadakan monitoring aktivitas badak di alam liar dengan menggunakan teknologi kamera trap dan analisa DNA dari pengambilan sampel kotoran.

Teknologi kamera trap ini dioperasikan pertama kali pada tahun 2001 di Taman Nasional Ujung Kulon, yang kemudian diketahui di habitatnya empat belas kelahiran badak berhasil direkam oleh kamera video. Hal ini membuktikan bahwa badak masih memiliki harapan.

Selain itu, WWF memfokuskan pada penelitian perilaku badak di alam liar, pola makan, dan mencegah ancaman penyebaran penyakit. Observasi ini sekiranya dapat menyeleksi badak berdasarkan kondisi kesehatannya di alam liar dan kemungkinan untuk berkembang biak dapat dipantau dengan seksama, sehingga meningkatkan potensi jumlah generasi baru badak di alam liar.

Terlepas dari banyaknya kejadian mengenaskan yang menimpa satwa di Indonesia, kita tentunya harus optimis bahwa kesejahteraan satwa di Indonesia dapat diperjuangkan. Apa yang telah dilakukan oleh WWF sebagai organisasi mandiri patut diapresiasi karena mustahil menyandarkan seluruh permasalahan yang ada kepada negara. Namun, perjuangan yang ada sulit untuk bersinergi jika tidak ada dukungan kuat dari pemerintah yang memiliki wewenang.

Oleh karenanya, dibutuhkan ketegasan para pengambil keputusan untuk menjamin perlindungan penuh satwa Indonesia terutama yang sudah tergolong kedalam hewan nyaris punah seperti badak Jawa dan badak Sumatera.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Edu House Rayakan Harlah ke-8
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut